Main Layangan Pakai Kawat, Bikin Gangguan Listrik di Garut Jadi Tinggi
Hobi bermain layangan patut berhati-hati, terutama jika bermain di dekat jaringan listrik. Sepanjang tahun ini
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Hobi bermain layangan patut berhati-hati, terutama jika bermain di dekat jaringan listrik. Sepanjang tahun ini, ada 60 kasus gangguan listrik di Garut akibat bermain layangan.
Bermain layangan di Garut tak hanya memakai gelasan. Namun para pemainnya menambahkan kawat. Akibatnya, banyak kawat yang mengganggu jaringan listrik.
Mengatasi masalah itu, Pemprov Jabar dan PT PLN membentuk tim sapu bersih layangan berkawar (Saberlakat). Tim yang berasal dari warga itu akan mengawasi para pemain layangan yang memakai kawat.
"Bermain layangan boleh, tidak dilarang. Tapi yang dilarang itu penggunaan kawatnya karena bisa mengganggu jaringan listrik," kata Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum di Kelurahan Sukajaya, Tarogong Kidul, Rabu (7/10/2020).
• Sampah Bekas Demo Berserakan di Depan Gedung DPRD Jabar, Cleaning Service Kerja Lembur
Uu menyebut, dampak bermain layangan berkawat dapat merugikan orang banyak. Jaringan listrik bisa padam ketika kawat layangan menyentuh jaringan transmisi.
Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman menyebut jika pihaknya sudah memiliki Perda soal bermain layangan berkawat. Namun setelah Perda tersebut dibentuk, jumlah pelanggarannya meningkat.
"Padahal dampaknya sangat berbahaya. Tak hanya mengganggu listrik di Garut, tapi bisa sampai satu provinsi," kata Helmi.
Keberadaan Saberlakat diharap bisa mengedukasi masyarakat agar tak memakai kawat saat bermain layangan.
"Sebenarnya ada sanksi yang diatur dalam Perda itu. Berupa tipiring (tindak pidana ringan) sanksi yang diberikan. Cuma tetap saja banyak pelanggarannya," ujarnya
General Manager PT PLN Unit Transmisi Jawa Bagian Tengah, Sumaryadi mengatakan, jumlah gangguan listrik di Garut jadi yang tertinggi di Jabar. Sepanjang 2020, ada 60 kasus gangguan listrik akibat bermain layangan.
• INI PENYEBABNYA, Terjadi Peningkatan Kunjungan Pasien Gangguan Cemas di RSJ di Masa Pandemi Covid-19
"Jumlah itu meningkat 300 persen dari tahun sebelumnya. Ini mungkin karena anak-anak sekolah belajar di rumah dan menghabiskan waktu bermain layangan. Rata-rata gangguan itu terjadi pukul 15.00 sampai18.00," ucap Sumaryadi.
Dampak dari maraknya warga bermain layangan dengan kawat bukan hanya membuat listrik padam. Perusahaannya juga mengalami kerugian akibat hal itu.
"Kerugian kami cukup besar, bahkan bisa miliaran kalau ada gangguan. Sekali gangguan itu, listrik berhenti. Untuk kembali nyala itu butuh energi. Itu sangat besar kerugiannya," kata dia.
Pihaknya bersama Pemprov Jabar tengah merancang Pergub terkait bermain layangan kawat. Nantinya Satpol PP punya dasar hukum untuk melakukan penindakan.