Penjualan Aksesoris Berbahan Kulit di Garut Merosot hingga 60 Persen, Terancam Gulung Tikar
Penjualan aksesoris berbahan kulit sapi dan domba di sentra industri kulit Sukaregang, Kabupaten Garut
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Penjualan aksesoris berbahan kulit sapi dan domba di sentra industri kulit Sukaregang, Kabupaten Garut mengalami penurunan hingga 60 persen di masa pandemi Covid-19. Sepinya pengunjung jadi salah satu faktor penurunan.
"Penjualan produk kerajinan kulit ini sangat merosot tajam jika dibandingkan dengan saat normal. Selama pandemi Covid ini, penjualan menurun hingga 60 persen," ujar pemilik Galeri Guns Leather, Senin (5/10/2020).
Banyaknya UMKM yang terpuruk akibat dampak pandemi tersebut dikarenakan terbatasnya akses permodalan. Berbeda dengan perusahan besar yang memiliki modal dan jaringan lebih luas lagi dari sisi pemasaran.
"Dengan modal tidak terlalu besar dan terbatasnya akses pemasaran menjadi salah satu faktor banyak yang terpuruk. Kami berusaha tetap bertahan," ucapnya.
• Pilkada Indramayu 2020, Banyak Calon Dompleng Acara Warga untuk Kampanye, Ada 13 Pelanggaran
Meski dalam kondisi tidak stabil, namun pihaknya berupaya untuk tidak mengurangi atau merumahkan karyawan. Pihaknya mengandalkan penjualan secara daring untuk bisa bertahan.
"Kami tetap mempertahankan karyawan dengan membagi shift kerja. Meskipun antara pengeluaran barang dan pemasukan sangat tidak seimbang," katanya.
Para pengusaha juga harus menghadapi persaingan dengan produk impor. Terutama barang-barang yang berasal dari Tiongkok. Padahal kebanyakan produk tersebut berbahan kulit sintetis.
"Untuk segi kualitas kami tidak khawatir karena produk kami memliki keunggulan. Namun soal harga kami akui sangat tidak sebanding," ujarnya.
Tak hanya industri kulit, keluhan serupa juga dilontakan pengusaha batik Garutan. Pengusaha menyebut omset mereka menurun antara 60 hingga 70 persen.
• AKHIRNYA DPR Sahkan RUU Cipta Kerja Menjadi Undang-undang, Hanya Demokrat dan PKS yang Menolak
"Penurunnya cukup drastis antara 60 hingga 70 persen. Bahkan tidak sedikit yang terancam gulung tikar akibat tersendatnya aspek pemasaran," kata pemilik usaha batik Garutan SHD, Agus Sugiarto.
Menurut Agus, bukan hanya di Garut saja usaha batik melorot. Tapi rekanan usaha di dunia batik di berbagai daerah di Indonesia juga mengalami nasib serupa.
"Selama PSBB di masa pandemi Covid diberlakukan di kota-kota besar hampir di seluruh Indonesia, menjadi penyebab utama terpuruknya usaha batik," ucapnya.
Solusi yang ditawarkan oleh pemerintah agar tetap bertahan dengan melakukan pemasaran secara daring dinilai Agus tidak begitu efektif.
"Batik itu banyak corak dan ragamnya sehingga jika dipasarkan melalui online tidak efektif. Kami lebih mengedepankan selera dan kepuasan pelanggan. Lebih baik menjual langsung," katanya.
• BERITA Persib, Passos Tetap Beri Materi untuk Kiper Persib Meski Sedang Jalani Istirahat Total
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/jaket-kulit_20180114_135052.jpg)