Breaking News:

Sorot Tribun Jabar

Bukan Sekadar In Het Hooi

indehoi adalah bagian dari jalinan pernikahan. Kenapa demikian? Karena mahligai pernikahan tidak akan kokoh jika aktivitas indehoi seperi dalam arti d

Bukan Sekadar In Het Hooi
dokumentasi tribun jabar
Aditya Annas Azhari, Wartawan Tribun

INDEHOI menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya asyik bermesraan. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, indehoi mengandung makna berasmara, bercinta, bercintaan, bercinta-cintaan, bercumbu, bermesraan, berpacaran, bersuka-sukaan.

Sebenarnya kata indehoi berasal dari bahasa Belanda in het hooi, yang artinya di rumput kering atau jerami. Hal ini merujuk kebiasaan lampau orang-orang negeri Kincir Angin itu bercumbu, bercinta, atau memadu kasih di rumput kering (jerami) yang banyak terdapat di kawasan peternakan atau pertanian. Ya, Belanda memang negara pertanian/peternakan. Entah kenapa ratusan tahun silam bermain cinta di jerami merupakan suatu keasyikan di Eropa Barat sana.

Yang jelas, in het hooi hanya di negeri bekas jajahan Belanda ini menjadi indehoi. Mungkin lantaran pribumi tak bisa membedakan penggunaan het dan de dalam tata bahasa Belanda.

Memang kata indehoi di era pascakemerdekaan 1945 sering dikaitkan dengan aktivitas mesum pria dan wanita yang tidak terjalin dalam hubungan pernikahan. Kata indehoi kian populer pada 1970-an berkat obrolan gaul di radio oleh Warung Kopi Prambors.

“Anak muda sekarang (tahun 1970-an) sering menyebut kata indehoi. Namun, tidak banyak di antara mereka yang tahu, kata itu adalah ciptaan Motinggo Boesye yang populer lewat novel-novel popnya," kata Salim Said di majalah Tempo, 12 Juli 1975, seperti dilansir dari Historia.id

Namun, bagaimanapun, indehoi adalah bagian dari jalinan pernikahan. Kenapa demikian? Karena mahligai pernikahan tidak akan kokoh jika aktivitas indehoi seperi dalam arti di KBBI itu ditinggalkan. Apa jadinya jika pasangan suami-istri jarang atau tidak pernah berindehoi? Rumah tangga tentu bakal berantakan. Indehoi adalah hal yang mengasyikkan untuk mempertahankan bara cinta pasangan suami-istri.

Sayangnya, indehoi dalam pernikahan sakral itu tak sedikit yang gagal dan berantakan lantaran perceraian, seperti tergambar dari berita-berita di Tribun Jabar pada pekan ini mengenai tingginya perceraian di Indramayu, Kabupaten Bandung, dan kota/kabupaten lain di Jawa Barat.

Di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bandung antrean untuk pendaftaran gugat cerai dan sidang cerai membeludak, hingga antre ke luar gedung pengadilan agama. Penyebab perceraian tentu saja banyak faktor mulai dari perselisihan terus-menerus, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ekonomi, perselingkuhan, pernikahan terlalu dini, hingga salah satu pihak (istri/suami) meninggalkan pasangannya.

"Di Indramayu setiap hari selalu ada pasangan muda yang bercerai, rata-rata usianya 20-24 tahun," ujar Agus Gunawan dari Humas Pengadilan Agama Indramayu kepada Tribun, Selasa (25/8).

Ya, memutuskan untuk menikah perlu kesiapan lahir-batin plus pertimbangan yang matang dan tentu dengan keridaan Allah Swt.

Jika begitu banyak pasangan bercerai, ini justru bakal menggoyahkan negara bahkan merusak sendi-sendi kehidupan sosial di masyarakat.

Kenapa? Karena negara bangsa yang kuat berasal dari keluarga harmonis. Negara akan kokoh jika keluarga sebagai unit terkecil bangsa mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (tenteram, penuh cinta, dan kasih sayang). Dalam pernikahan itu dua jiwa disatukan dan dua keluarga dipertemukan hingga terjalin silaturahmi penuh kasih sayang.

Jadi, pernikahan itu bukan sekadar in het hooi. (*)

Penulis: Adityas Annas Azhari
Editor: Adityas Annas Azhari
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved