Virus Corona di Jabar
Ada Klaster Baru Lagi, Selain LG dan Suzuki, Ridwan Kamil: Jabar Masifkan Tes Covid-19 di Industri
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan semakin intens melakukan tes masif Covid-19 di industri-industri di Jawa Barat.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan semakin intens melakukan tes masif Covid-19 di industri-industri di Jawa Barat.
Baru-baru ini, katanya, setidaknya ditemukan 313 pekerja industri yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Barat.
Klaster baru penyebaran Covid-19 ini, katanya, ditemukan di Kawasan Industri MM 2000, yakni kawasan industri di Kabupaten Bekasi.
• Kadinkes Kabupaten Cirebon Tak Setuju Digelar KBM Tatap Muka, Tren Covid-19 Lagi Meningkat
• 15 Juta Orang Indonesia Bisa Divaksin Covid-19 pada Akhir Tahun Ini, Syaratnya . . .
Sejak beberapa hari lalu telah dilakukan pengetesan masif kepada para karyawan di kawasan tersebut.
Hasilnya, katanya, ditemukan klaster baru penyebaran Covid-19 di kawasan pabrik LG Electronics dan pabrik otomotif Suzuki. Satu klaster lagi baru bisa diumumkan, Jumat (28/8/2020).
"Ada tiga yang ditemukan, satu klaster LG, 242 orang, kasusnya lumayan sangat banyak. Posisi di mana domisili mereka yang terpapar oleh Covid-19 ini, ada yang di Kabupaten Bekasi, ada yang di Jakarta, juga ada yang di Karawang. Nah, sudah dilakukan isolasi mandiri salah satunya di President University," katanya di Gedung Pakuan, Kamis (27/8).
Kemudian, katanya, ditemukan klaster penyebaran Covid-19 baru di pabrik Suzuki.
Di industri otomotif ini, ditemukan 71 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.
"Kemudian yang ketiga, baru dites tadi, beritanya mungkin baru bisa besok ada tambahan di pabrik mana lagi," ujar gubernur yang akrab disapa Emil ini.
Emil kembali mengingatkan agar semua industri mematuhi protokol kesehatan.
Harusnya, katanya, industri ini menjadi yang paling disiplin karena mereka memiliki tempat khusus, terjaga, dan punya kekuatan memaksa karyawannya untuk disiplin.
"Tapi kalau ternyata ada klastering, berarti ada perilaku selama ini yang kurang mengikuti protokol. Apakah memakai maskernya tidak disiplin, apakah jaga jaraknya tidak dilakukan, apakah cuci tangan tidak dilakukan, atau ada orang OTG yang tidak teridentifikasi wara-wiri melakukan kegiatan," katanya.
• Perangi Covid-19, Swab Test di Kota Tasikmalaya Mulai Masuk Sekolah, yang Pertama SMA Negeri 5
• Ridwan Kamil cs Hari Ini Belum Disuntik Vaksin Covid-19, Baru Dicek Berat dan Tinggi Badan
Emil pun meminta semua industri di Jabar kembali waspada karena terjadinya klaster industri ini menunjukkan bahwa induksi tidak kebal Covid-19 sehingga semua harus berhati-hati. Jangan sampai, katanya, aktivitas ekonomi yang kembali hidup ini kembali ditutup.
"Perilaku potensi tertular Covid-19 kepada orang yang bekerja itu, bisa di tempat kerjanya, atau perilaku pekerja itu di rumahnya. Pulang dari kerja ini yang susah diketahui. Maaf ya, pulang dari pabriknya apakah dia mampir dulu ke pasar penuh keramaian, atau sorenya nongkrong dulu. Nah itu yang kadang-kadang saya secara teori lebih meyakini kemungkinan terpaparnya pada saat di luar pabriknya," katanya.