Breaking News:

Opini

Ajip Rosidi dan Corp Muballigh Bandung

Betapa tidak, di usia 14 tahun Ajip mulai menulis dan menyelesaikan karya-karya sastra yang kelak dicatat dalam sejarah sastra nasional.

Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan
Sketsa Foto Ajip Roridi 

Oleh NURDIN QUSYAERI

BICARA Ajip Rosidi bagi kalangan budayawan, sastrawan, intelektual, dan juga aktivis yang punya gen Masyumi, bukan hal asing. Budayawan Sunda asal Majalengka Jawa Barat ini banyak melahirkan karya yang membuat decak kagum para budayawan dan sastrawan besar saat itu.

Betapa tidak, di usia 14 tahun Ajip mulai menulis dan menyelesaikan karya-karya sastra yang kelak dicatat dalam sejarah sastra nasional. Saat itu Ajip mulai mengisi majalah-majalah sastra seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang, Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dan lainnya. Dia menghasilkan publikasi karya dalam bentuk buku atau tulisan lain. Ia meraih gelar doktor kehormatan, honoris causa, bidang ilmu budaya dari Universitas Padjadjaran pada 2011 dan sederet penghargaan sastra.

Di kalangan aktivis Islam, suami Nani Wijaya ini pun bukan orang baru karena kedekatannya dengan salah satu anak tokoh Masyumi Isa Anshari, yaitu dengan Mang Endang Saefudin Anshari. Berkat kedekatanya dengan ESA (singkatan dari Endang Saefudin Anshari), Ajip akhirnya banyak bertemu tokoh Masyumi lain seperti Syafrudin Prawira Negara, Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Roem, dan Mohammad Natsir yang akhirnya ia abadikan dalam buku biografi Mohammad Natsir versi sastra.

Ajip berpulang hanya berselang dua hari setelah kami rombongan dari Corps Muballigh Bandung (CMB) menengok ke Rumah Sakit Tidar, Magelang. Namun sangat disayangkan, saat menjenguk ke RS Tidar, kami tidak bisa menemuinya karena peraturan rumah sakit belum membolehkan beliau ditengok. Kami hanya menunggu di luar ruangan dan bertemu anaknya di ruang tunggu serta istrinya, Nani Wijaya, di kediamannya. Haji Ingka sebagai pimpinan rombongan dari CMB mendoakan Pak Ajip agar diberikan putusan terbaik. Begitupun kepada keluarganya agar tetap sabar dan tabah menghadapi ujian.

CMB adalah lembaga dakwah yang diinisiasi oleh purna aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) dan juga Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tahun 1967. Maklum para penggeraknya para mantan aktivis kepemudaan, gerakannya pun sangat dinamis.

Tampilan mubalignya pun nyentrik dan unik-unik. Yosep CD (ketua CMB), misalnya, dia ahli tafsir dan sempat jadi dosen di UNISBA. Dia pun adalah budayawan yang mubalig. Penampilanya necis alias nyentrik; rambut gondrong diikat, pake topi pet.

Begitupun penggerak dakwah lain, seperti Mang Lukman Shaury, Amang Musa, Kang Umar Burhanuddin, Mang Engkas, Abdul Fattah, Anwar Suhaemi, dll (semua nama yang disebut sadah almarhum). Tidak heran jika Ajip merasa nyaman berhubungan dengan aktivis CMB. Para pembinanya pun adalah tokoh-tokoh di zamannya, seperti KH M Rusyad Nurdin dan EZ Muttaqien,

Tahun 1970-1990-an lembaga ini banyak melahirkan mubaligh dan juga akademisi kenamaan di antaranya KH Abdul Fatah dengan julukan “Si Lidah Emas”, KH Aos Saeful Azhar, Endang Saefudin Anshari MA, Prof Dr KH Miftah Faridl, Prof Dr Sanusi Uwes MPd, Prof Dr Asep Saeful Muhtadi MA, Drs H Mamat Chusowie, dan lain-lain.
Melihat struktur komposisi penggerak CMB seperti itu, bagaimana hubungan Ajip dengan CMB? Sejak awal pendirian CMB, perhatian Pak Ajip sangat besar. Bakan dia sering ikut dalam pengajian-pengajian yang diadakan CMB. Bahkan dalam beberapa tulisannya, nama CMB sering disinggung bahwa pengajian Kamisan CMB merupakan pengajian tertua, katanya dalam salah satu tulisan.

Nasihatnya sering terlontar saat bertemu kader-kader CMB terutama saat bertemu H Ingka sebagai ketua CMB. Budayawan yang tak pernah “ngambeu bangku kuliah” ini selalu mengingatkan agar seorang mubaligh dan dai mempunyai kemandirian finansial.
“Ustaz kudu mandiri dina finansial sangkan teu rero dina nyarita jeung nanjeurkeun bebeneran. Mubaligh kudu jujur. Dakwah CMB kudu make bahasa indung. Sabab eta nu dicontokeun ku Nabi. Dakwah kudu bilisaani qoumihi”

Halaman
12
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved