18 Tahun Tak Bisa Melihat, Udin Tetap Semangat Bekerja di Pabrik Aci, Mandiri Tak Menyusahkan Orang

Udin, pria berusia 45 tahun, warga Kampung Cibojong, Desa Panumbangan, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi

Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Ichsan
tribunjabar/m rizal jalaludin
18 Tahun Tak Bisa Melihat, Udin Tetap Semangat Bekerja di Pabrik Aci, Mandiri Tak Menyusahkan Orang Lain 

Laporan Kontributor Kabupaten Sukabumi, M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Udin, pria berusia 45 tahun, warga Kampung Cibojong, Desa Panumbangan, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, harus mengalami nasib pahit.

Udin mengalami katarak sudah lebih dari 18 tahun. Meskipun kondisi matanya tidak bisa melihat, Udin tetap semangat bekerja.

Udin menceritakan, pertama kali ia mengalami katarak tahun 2001. Saat itu ia belum bekerja di pabrik aci.

Ia bekerja di sebuah toko, setiap harinya mengantarkan barang ke pelanggan menggunakan sepeda motor.

"Penglihatan seperti ini dari 2001 kalau gak salah. Mula-mulanya lagi kerja, kan dulu saya kerja di toko, suka bawa belanjaan di motor, belanjaan suka diikat dengan karet, pas saya buka karet kebentur ke mata sebelah kiri. Yang satu lagi (Kanan) pas cari kayu bakar, itu kena kayu bakar," ujar Udin kepada  Tribunjabar.id, Selasa (28/7/2020).

Ridwan Kamil Sebut KBM di SMA/SMK akan Dibuka di 257 Kecamatan, tapi Waktunya Belum Diputuskan

Udin sempat melakukan pemeriksaan matanya, saat ada pengobatan gratis oleh salah satu perusahaan.

"Pas awal sakit sudah dioperasi. Mula-mula di Sekarwangi yang sebelah kanan, terus yang kiri di Palabuhanratu, dapat bantuan dari Sidomuncul, operasi katarak. Tapi katanya kataraknya sudah di angkat, cuma urat sarafnya. Jadi penyakitnya saraf," terangnya.

Meskipun matanya masih tidak melihat, ia tetap semangat jalani hidup. Setiap hari ia harus menempuh jarak sekitar 300 meter bekerja di pabrik aci.

"Saya kerja di pabrik aci sudah sekitar 15, 16 tahunan. Saya sudah biasa sendiri, gak ada yang nganter, kurang lebih 300 meter jarak rumah ke pabrik. Ya mungkin Allah sudah memberi kelebihan sama saya. Memang situasi tempat sudah hapal, lokasi-lokasi di pabrik sudah hapal. Kalau libur pas gak ada barang, biasa cari rumput buat kambing, saya pihara kambing milik tetangga," tuturnya.

Berandalan Bermotor yang Bikin Kisruh di Sukabumi Sudah Ditangkap, Ada 3 Pelaku Diamankan Polisi

Bahkan, di pabrik aci, Udin tidak hanya melakukan satu jenis pekerjaan, ia juga telah terbiasa melakukan berbagai jenis kerjaan di pabrik. Mulai dari pengolahan hingga menjemur singkong yang telah dihaluskan sebelum jadi aci.

"Di pabrik aci, saya mah semua juga bisa, ngolah singkong bisa, giling bisa. Semua kadang-kadang saya bisa, yang memberi informasi ke teman itu saya bisa, jemur bisa. Dulu karyawannya banyak, sekarang mah berubah, menurun terus, sekarang cuman saya doang yang kerja," kata Udin.

Dalam sehari, Udin mendapatkan penghasilan di pabrik aci tidak menentu. Kadang, ia mendapatkan Rp 25 ribu, terkadang dapat Rp 30 ribu.

"Gaji saya borongan, paling kalau lagi kerja mah paling Rp25 ribu, Rp30 ribu satu hari ada," jelasnya.

Dari penghasilannya tersebut, ia gunakan untuk mencukupi istri serta dua orang anaknya yang baru lulus SMP dan masih duduk di bangku SMP kelas VIII.

"Anak punya dua, satu lulus sekolah SMP, yang satu kelas 2 SMP. Pengen berobat masih ada. Namun saya sudah pasrah, biarin mata seperti ini juga, tapi yang penting mah untuk kehidupan sehari-hari ada terus," ucapnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved