Breaking News:

Sorot

Menjaga Harapan di Tengah Pandemi Covid-19

Pakailah masker meski sedikit sesak. Percayalah, ketika virus corona itu memenuhi paru-paru kita, sesaknya akan berpuluh-puluh kali lipat dari itu

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
kartun ilustrasi relawan Covid-19 

Oleh Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

LEBIH dari tiga bulan sejak kasus pertama ditemukan, kasus-kasus Covid-19 baru di Tanah Air masih terus terjadi, sekalipun di sejumlah wilayah, grafiknya sudah mulai melandai.

Secara nasional, jumlah mereka yang positif terpapar Covid-19 hingga hari ini, tercatat 28.818 orang, atau bertambah 585 kasus dalam 24 jam. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18.205 orang masih dirawat, 1.721 meninggal, dan 8.892 sembuh.

Di Jawa Barat, total kasus Covid-19 sebanyak 2.334 orang, atau bertambah 35 kasus dalam 24 jam. Meski penambahan kasus masih ada, secara keseluruhan kondisi di Jabar bisa dibilang menggembirakan. Bukan saja karena kasusnya yang mulai melandai, namun jumlah pasien yang sembuh juga terus meningkat setiap hari.

Dalam 48 jam terakhir, 71 pasien Covid-19 di Jabar dinyatakan sembuh. Penambahan itu membuat total pasien yang sembuh di Jabar menjadi 719 orang, atau nyaris lima kali lipat dari jumlah pasien meninggal, yang dalam 24 jam terakhir hanya bertambah 1 kasus menjadi 155.

Kondisi inilah yang kemudian membuat pemerintah daerah mulai melakukan sejumlah pelonggaran. Rumah-rumah makan dan restoran kembali boleh menerima pengunjung yang makan di tempat. Rumah-rumah ibadah mulai kembali dibuka.

Menyusul mulai melandainya penyebaran virus korona ini, sejumlah wilayah di Tanah Air bahkan mulai berencana membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah-sekolah. DKI Jakarta, menjadi salah satu yang sempat mengumumkannya akan melakukannya pada bulan ini. Meski kemungkinan batal karena belakangan, Gubernur DKI Anies Baswedan rupanya memutuskan untuk memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Di tengah pandemi yang masih terjadi, kabar akan dibukanya kembali sekolah, memang tak disambut dengan kegembiraan, melainkan kekhawatiran. Bagaimana pun, kasus-kasus baru Covid-19 masih bermunculan, sementara sekolah jumlahnya sangat banyak. Sedikit saja kecerobohan, dampaknya akan sangat mengerikan.

Tak heran, penolakan pembukaan sekolah pun segera bermunculan dari berbagai daerah. Di Jawa Barat, para orang tua di Kabupaten Garut adalah yang pertama menolak. Disusul kemudian daerah lain, termasuk Kota Bandung.

Syukurlah, di tengah kegelisahan itu, kepastian diumumkan pemerintah. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menegaskan sekolah adalah fasilitas yang paling terakhir akan mendapatkan pelonggaran. Sekolah-sekolah di Jabar baru akan dibuka setelah kondisi benar-benar aman.

Respons Gubernur yang cepat ini tentu saja sangat melegakan. Ketegasan Gubernur seketika menghentikan kesimpangsiuran. Anak-anak masih tetap di rumah.

Gubernur memperkirakan, kondisi baru bisa dinilai benar-benar aman pada awal tahun 2021. Saat itu, penyebaran Covid-19 di Jabar mungkin tak lagi terjadi. Saat itu vaksin penyakit yang disebabkan virus ini mungkin juga ditemukan. Kita tak tahu pasti.

Ketidakpastian, ini barangkali menjadi kata kuncinya. Kita tak tahu pasti apakah penyebaran penyakit ini akan selesai di ujung tahun, atau malah sebaliknya, kembali bergejolak, lebih mengerikan, lebih mematikan.

Dalam ketidakpastian ini pula, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menjaga harapan. Mari kita pelihara itu dengan disiplin menjaga protokol kesehatan. Jangan badung, apa lagi sok jago.

Pakailah masker meski sedikit sesak. Percayalah, ketika virus corona itu memenuhi paru-paru kita, sesaknya akan berpuluh-puluh kali lipat dari itu. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved