Sorot

Mabuk Waspada

Ketakutan terpapar Covid-19 membuat kita siaga membabi-buta. Mabuk waspada...

TRIBUNNETWORK
WASPADA CORONA 

Oleh Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar

LEBIH dari dua bulan sejak kasus pertama terdeteksi, awal Maret lalu, kasus Covid-19 di Tanah Air belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Kasus baru masih terjadi setiap hari. Senin (11/5), total kasus positif menjadi 14.265 atau bertambah 233 kasus dalam 24 jam.

Jakarta masih menjadi epicentrum dengan 5.276. Disusul Jawa Timur 1.536 kasus, dan Jawa Barat 1.493 kasus.

Di Jawa Barat, sekalipun laju penambahannya tak sebanyak di Jakarta, jumlah pasien positif baru masih terbilang tinggi, 56 kasus. Hal yang melegakan, jumlah pasien sembuh juga terus bertambah. Kemarin 213 orang sembuh, atau bertambah 11 orang dalam 24 jam.

Seperti di belahan lain di dunia, beragam upaya juga dilakukan masyarakat di Indonesia untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Di Indonesia, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Di level kompleks perumahan, PSBB ditandai dengan pemasangan perintang-perintang jalan (portal) untuk membatasi lalu lintas warga. Bahkan ada juga yang membangun tembok secara permanen seperti terjadi di batas Kompleks Griya Mitra dan Bumi Orange, di Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Waspada ini membuat kita “mabuk” waspada. Siaga membabi-buta.

Di beberapa tempat, portal bahkan dilengkapi penyemprot cairan disinfektan otomatis, yang langsung keluar saat pejalan kaki atau pengendara kendaraan bermotor melintas di bawahnya.

Pada awal-awal meningkatnya kesadaran warga tentang pentingnya memutus mata rantai korona, penyemprotan cairan disinfektan bahkan dilakukan di kendaraan-kendaraan umum yang tengah dipenuhi penumpang. Itu berlanjut hingga berhari-hari meski WHO teriak-teriak, itu bahaya!

Para penumpang pasrah. Sebagian bahkan suka cita tubuhnya begitu rupa disemprot cairan pembasmi hama itu.

Di pintu-pintu masuk bank, kantor, dan lembaga-lebaga pemerintah, gerbang disinfektasi juga bermunculan pada masa-masa awal kesadaran ini. Satpam bank atau pertokoan dengan sigap meminta pengunjung melintas di gerbang disinfektasi tanpa kecuali. Satpam akan langsung melotot jika kita memaksa.

Ketakutan akan terpapar korona juga membuat sejumlah warga secara keras menolak pemakaman pasien positif korona di daerahnya meski mayat pasien itu dibungkus berlapis-lapis dan terjamin bahwa virus tak kasat mata berukuran 120 hingga 160 nanometer tak mungkin bisa keluar. Di lain tempat, seorang perawat diusir oleh pemilik tempat kos yang ketakutan karena perawat itu bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19.

Syukurlah hari-hari ini kekonyolan-kekonyolan seperti itu perlahan hilang, meski satu-dua kali, masih juga terjadi.

Kita memang harus waspada dan tidak boleh kehilangan itu. Tapi, rasional juga penting di tengah wabah yang entah kapan akan berakhir ini.

Semoga keadaan bisa kembali normal secepatnya. Sungguh, rindu betul kita pada hidup normal seperti itu. (*)

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved