Virus Corona di Jabar
Sudah Seminggu Kasus Positif Corona di Jabar Menurun, Pertanda Pandemi Segera Lenyap?
Sebelumnya pada Sabtu (2/5), angka pasien positif di Jabar bertambah 31 pasien, sedangkan pada Jumat (1/5) tidak ada penambahan pasien positif
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ravianto
Meski diliputi kecemasan, namun masyarakat tetap memperlihatkan persepsi yang baik terhadap upaya pemerintah provinsi dalam menangani Covid-19, terutama Pemprov Jabar yang dinilai paling baik dengan persentase sebesar 51%, disusul oleh Pemprov DKI Jakarta 47%, Jateng 44%, dan Jatim 40%.
Menurut Vici, kondisi tersebut, salah satunya didukung oleh proposi budget yang digelontorkan oleh Pemprov Jabar yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan DKI Jakarta, Jateng, dan Jatim. Diketahui, Pemprov Jabar menggelontorkan anggaran Covid-19 hingga total Rp 16 triliun.
Dalam hal kepercayaan terhadap data perkembangan kasus Covid-19, kata Vici, masyarakat di empat provinsi juga masih mempercayai data yang diberikan oleh masing-masing pemerintah provinsi.
Masyarakat di keempat provinsi cenderung mudah mengakses info perkembangan kasus Covid-19, terutama di Jabar dengan persentase sebesar 43% dan DKI Jakarta 39%. Sementara Jateng 35% dan Jatim 31%.
"Dari keempat provinsi, Provinsi Jawa Barat dianggap paling cepat oleh masyarakatnya dalam menangani wabah Covid-19 dibandingkan tiga provinsi lainnya dengan persentase mencapai 38%," ujar Vici dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/5).
Ditambahkan Vici, masyarakat di keempat provinsi juga cenderung puas terhadap cara pemerintah provinsi dalam menghadapi wabah Covid-19. Tingkat kepuasan masyarakat Jabar dan DKI Jakarta tak berbeda jauh dengan masing-masing persentase 33% dan 29%.
Repro Indonesia melibatkan 1.000 responden dari total 17.661 responden yang dipilih secara acak berdasarkan survei Repro Indonesia sebelumnya pada Oktober 2018-September 2019. Pengambilan data sendiri berlangsung mulai 13 April hingga 20 April 2020. Sementara margin of error dalam penelitian tersebut disebutkan kurang lebih 3,11% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan pihaknya bekerja keras dalam penanganan Covid-19 beserta dampaknya bukan untuk mendapat pujian dari lembaga riset. Akselerasi yang dilakukan pihaknya semata-mata untuk menolong warga.
“Kita bekerja untuk menolong rakyat, menyelamatkan nyawa warga dengan keputusan terbaik dari keterbatasan,” katanya menanggapi hal tersebut.
Menurutnya lewat keterbatasan terutama anggaran dan fasilitas, pihaknya memaksimalkan teknologi, menggerakan relawan, dan berani mengambil keputusan cepat seperti membeli alat rapid tes tanpa menunggu bantuan dari pemerintah pusat.
Kang Emil, sapaan akrabnya, menyampaikan setidaknya ada 5 strategi yang dilakukan pihaknya dalam penanganan Covid-19 yang kemudian dinilai warga paling responsif.
“Kita prinsipnya lima, responsif kalau bisa cepet gak usah nunggu, transparan Pikobar adalah bagian dari transparansi, ilmiah tiap hari ada ekpert panel, orang statistik, dokter ngasih masukan ke telinga saya, PSBB provinsi itu masukan para ahli. Kan ada yang menyarankan PSBB se-Indonesia tapi ditolak gak bisa. Nah saya memahami maka kita daftar. Kolaboratif ngajak karang taruna PKK dapur umum. Inovatif, industri dimanfaatkan, Bio Farma bikin PCR sendiri, buat ventilator. Lima ini yang kami pegang setiap hari sehingga kalau diapresiasi alhamdulillah kalau kurang baik kita perbaiki,” ujarnya.
Kang Emil mengaku penanganan Covid-19 merupakan ujian kepemimpinan yang tidak perlu dirangking. Karena tiap konteks penanganan di daerah berbeda-beda kebutuhannya. Langkah yang diambil Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan dinilai Emil sebagai upaya maksimal.
Disinggung seringnya kinerja dirinya dibanding-bandingkan dengan Gubernur DKI Anies Baswedan bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pihaknya menilai wajar jika hal tersebut muncul di sosial media. Namun di luar perdebatan warga di sosial media, Emil mengaku tidak ada urusan rivalitas di antara ketiganya.
“Itu sunatullah, kami para pemimpin Pak Ganjar, Pak Anies, kalau ngobrol gak pernah baper. Pak Ganjar Pak Anies punya haters punya suporter saya juga ada, ada yang muji, mengkritisi. Nabi Muhammad saja manusia maksum hatersnya banyak karena gak mungkin menyenangkan semua manusia. Di Jawa Barat prinsipnya kita kerja maksimal, yang kurang kita perbaiki, yang positif pertahankan,” katanya. (Sam)