Sorot

Lockdown

Jika lockdown memang menjadi cara yang paling efektif dan cepat untuk mengatasi mewabahnya corona, lockdown mungkin harus kita ambil tanpa ragu...

malay mail
Lalu lintas di jalan raya Kuala Lumpur Malaysia tampak lengang pasca-diberlakukannya sistem penguncian (lockdown) secara nasional akibat corona. 

Oleh Arief Permadi,  Jurnalis Tribun Jabar

KOTA Bandung dan sekitarnya jauh lebih sepi dalam beberapa hari terakhir. Jalanan yang biasanya padat mendadak lengang, seperti saat Lebaran. Beberapa angkutan kota masih terlihat hilir mudik, namun kebanyakan tak berpenumpang. Sebagian toko masih buka seperti biasa. Tapi rata-rata sepi, kecuali di toko kimia di Jalan Ahmad Yani. Banyak pembeli datang untuk memborong antiseptik literan, atau alkohol yang menjadi bahan utama pembuatan hand sanitizer yang belakangan langka.

Satu-satunya yang tak berubah barangkali hanya di kolam-kolam pemancingan, baik kolam pemancingan kecil maupun yang besar, yang banyak terdapat terutama di pinggiran kota. Di saat tempat wisata lainnya "lockdown" karena wabah corona, tempat pemancingan justru "marema". Tak perlu khawatir soal social distancing (jarak sosial). Kita semua tahu, tak seorang pun pemancing bersedia berdekatan dengan pemancing lainnya saat mereka sedang "berburu" di kolam yang sama. Makin berjauhan, makin baik.

Di tengah wabah corona yang terus meluas, saling menjaga jarak memang menjadi cara efektif untuk mencegah penularan. Itu sebabnya, kerumunan-kerumunan, hari-hari ini dibubarkan. Pesta-pesta, acara pentas seni, bahkan kegiatan ibadah yang mengundang banyak orang terpaksa dihentikan sementara.

Untuk mencegah meluasnya penyebaran wabah, kebijakan karantina wilayah (lockdown) bahkan mulai diterapkan sejumlah daerah, meski bukan lockdown sepenuhnya karena secara nasional, kebijakan tersebut belum diambil pemerintah pusat. Di Jawa Barat, kebijakan ini juga sudah mulai dibicarakan. Terlebih, sebagian besar warga di Jawa Barat yang positif terpapar virus corona, teryata warga yang baru pulang dari Jakarta, atau daerah-daerah di sekitarnya seperti Depok, Karawang, Bekasi, dan Bogor.

DPRD Jabar bahkan sudah mendesak agar eksekutif mempertimbangkan penerapan kebijakan ini. Penyebaran virus ini sangat cepat. Lockdown bahkan mungkin menjadi cara paling efektif untuk menekan tingkat perluasan wabah. Bukan saja secara cepat, tapi juga dengan hasil yang signifikan.

Namun, kebijakan lockdown, tentu saja tak mudah karena memiliki banyak konsekuensi. Lockdown akan serta-merta membuat perekonomian masyarakat, terutama menengah ke bawah, memburuk. Lockdown akan membuat banyak sekali orang tak bisa mendapatkan penghasilan. Pemerintah harus memiliki perencanaan logistik yang sangat matang, sebab lockdown pasti akan membuat banyak orang sengsara, bahkan mungkin kekurangan makanan.

Akan ada masa kita hidup sangat prihatin saat kebijakan ini diambil. Belum lagi masa-masa setelahnya, ketika kita harus kembali menata hidup setelah wabah berlalu.

Ramadan dan Lebaran tahun ini, mungkin akan menjadi Ramadan dan Lebaran yang kita lalui dalam kesenduan. Tak ada lagi sore hari yang ramai menunggu beduk berbuka. Tak ada lagi ritual mudik, atau ramai-ramai memenuhi mal, berburu busana Lebaran.

Namun, sesulit apapun itu, harapan mungkin masih ada sekalipun tak besar. Masih tersisa satu setengah bulan lagi sebelum Idulfitri tiba.

Jika lockdown memang menjadi cara yang paling efektif dan cepat untuk mengatasi mewabahnya korona, lockdown mungkin menjadi satu-satunya peluang yang harus kita ambil tanpa ragu-ragu.

Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu. Mudah-mudahan masih ada waktu bagi kita untuk berkumpul, salat tarawih bersama dan berkumpul saat Lebaran.(*)

* Artikel ini juga terbit di edisi cetak Tribun Jabar, Sabtu 28 Maret 2020 dengan judul yang sama.

Penulis: Arief Permadi
Editor: Arief Permadi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved