Tanggapan Pelajar di Garut soal UN Ditiadakan, Ada yang Senang tapi Ada Pula yang Bingung

Ujian Nasional (UN) ditiadakan akibat wabah virus corona, hal ini pun mendapat berbagai tanggapan

Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
istimewa
Denis Anisa (18), siswi SMAN 19 Garut. 2 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Ujian Nasional (UN) ditiadakan akibat wabah virus corona, hal ini pun mendapat berbagai tanggapan dari para pelajar di Garut. Ada yang ikut senang, namun ada juga yang kebingungan.

Denis Anisa (18), siswi SMAN 19 Garut menyebutkan sudah mendengar informasi UN ditiadakan. Ia sangat setuju dengan tak dilaksanakannya UN di tengah merebaknya wabah virus corona.

"Ya kalau saya sih ikut pemerintah atau Mendikbud saja gimana baiknya. Kalau enggak ada sih saya senang, apalagi katanya tahun ini UN terakhir," ucap Denis melalui pesan whatsapp, Selasa (24/3/2020).

Seharusnya UN tingkat SMA dilaksanakan pada 30 Maret. Dengan ditiadakannya UN, Denis masih menunggu informasi dari pihak sekolah.

"Nanti kelulusannya seperti apa. Masih tunggu info resminya. Soalnya buat syarat daftar untuk kuliah," katanya.

Pemkab Purwakarta Akan Tes Massal Warga Terkait Covid-19, Orang-orang Ini Jadi Prioritas

Yunita (18), siswi SMKN 1 Garut menilai ditiadakannya UN ada baik dan buruknya. Hal baik karena UN dianggap tidak penting.

"Para siswa menyepelekan UN karena tidak pengaruh ke kelulusan. Tidak adanya UN jadi mengurangi beban kelas XII," kata Yunita.

Buruknya, ditiadakannya UN membuat ia kebingungan dalam kelulusan sekolah. Terutama untuk nilai yang dicantumkan di ijazah.

"Kalau tidak ada UN, nilai yang mana buat dimasukan ke SKHUN," ucapnya.

Tasya Nurkholifah (18), siswi SMKN 1 Garut menyetujui dengan tak dilaksanakannya UN. Jika dipaksakan, ribuan siswa bisa bertemu dan berinteraksi saat pelaksanaan UN di sekolah.

"Apalagi anak sekolah banyak yang naik angkot. Itu sangat berbahaya untuk penularan wabah covid-19," ujar Tasya.

Sepekan Penerapan Kerja dari Rumah, Kenaikan Trafik Data XL Axiata Tertinggi di Jabar Mencapai 14%

Selama ini, ia juga tak terlalu fokus pada pelaksanaan UN. Ia lebih fokus untuk melaksanakan ujian kompetensi (Ujikom) sebagai siswi SMK.

"Saya rasa lebih adil lagi tidak hanya UN yang dihapus melainkan Ujikom juga. Enggak adil juga dengan adanya UN. Nilai di ijazah dicantumkannya yang UN. Terus hasil selama tiga tahun belajar enggak dilihat," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved