Breaking News:

Sentra Sepatu Cibaduyut Masih Eksis

Pengusaha Sepatu Cibaduyut Masih Optimistis Industri Sepatu Cibaduyut Bakal Terus Bertumbuh

CIBADUYUT tidak akan mati. Para pengusaha sepatu masih optimistis industri sepatu itu bakal terus bertumbuh. Kalau pun sekarang pamornya menurun, mere

Tribun Jabar/Januar P Hamel
TUGU SEPATU - Tugu sepatu di Cibaduyut masih kokoh berdiri, Rabu (26/2/2020). Tugu itu merupakan pertanda di sana terdapat sentra sepatu. 

Yusuf mencoba bertahan dengan caranya sendiri. Warisan sepatu pantofel yang diwariskan ayahnya, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkannya. Ia justru lebih fokus memproduksi sneakers (sepatu kets).

Yusuf bukan tanpa alasan untuk memutuskan itu. Ia melihat di Google Trend, sneakers memang sedang disukai. Lagi pula, katanya, sepatu sporty ini lebih fleksibel.

Yusuf Sahroni (31), pengusaha sepatu di Cibaduyut
Yusuf Sahroni (31), pengusaha sepatu di Cibaduyut (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

"Bisa dipakai kapan pun sesuai busana. Resmi bisa, formal juga bisa. Beda dengan pantofel yang hanya bisa digunakan untuk busana formal," katanya.

Alvin pun demikian. Ia bahkan membekukan dulu brand sepatu Alvin Parker untuk mengubah produksi yang tadinya pantofel menjadi sneakers. "Sekarang lagi dibekukan dulu karena mau di-rebranding lagi jadi produk sneakers," katanya.

Menurut Alvin, peminat sepatu pantofel sudah berkurang. Jadi, katanya, perajin harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. "Sekarang ini tren sepatu sudah beralih dan sebagai anak muda harus bisa menyesuaikan dengan industri 4.0," ujarnya.

Jadi menurut Yusuf, kalau Ciabaduyut mau tetap eksis, pelakunya harus berubah. Sekarang ini, katanya, era e-Commerce, dengan menggunakan teknologi itu, banyak keuntungan yang bisa diperoleh, tak hanya pemasaran bisa lebih mudah, tapi juga bisa memotong biaya produksi.

Tribun Jabar/Januar P Hamel
H. Taufiq Rahman, MBA (52), Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Alaskaki Indonesia (APAI)
Tribun Jabar/Januar P Hamel H. Taufiq Rahman, MBA (52), Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Alaskaki Indonesia (APAI) (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

"Dengan menggunakan e-Commerce, pengusaha sepatu Cibaduyut bisa memotong distribusi, pemasaran, dan bahkan iklan. Saya nggak perlu SPG (sales promotion girl) atau spanduk untuk menjual sepatu saya karena saya memasarkannya lewat e-Commerce, seperti di marketplace atau bikin web sendiri," kata Yusuf.

Alvin juga ternyata melakukan hal yang sama. Ia bahkan mengatakan mulai meninggalkan kebiasaaan lama berjualan di mal-mal. Cara itu katanya sudah tidak efektif karena biayanya membengkak untuk membayar margin toko plus SPG.

"Barang yang terjual sedikit untuk di mal. Sekarang saya upayakan untuk berjualan dan berpromosi secara online dan hasilnya sih cukup lumayan," katanya.

Gayung pun bersambut, pemerintah Kota Bandung melalui Disdagin, mendorong pengusaha di Cibaduyut untuk menggunakan e-Commerce. Menurut Elly, hal tersebut dilakukan agar transaksi tidak hanya terjadi di offline, tapi juga di online.

"Yang penting omzetnya berkembang, kami melakukan pelatihan terkait e-commerce tidak hanya jualan di toko dengan tetap memperhatikan kualitas dan kuantitas," kata Elly.

Elly mengaku pernah bekerja sama dengan marketplace yang memfasilitasi toko online untuk pengusaha Cibaduyut. (januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved