Kisah Poligami Viral, Abah Cijeunjing Ternyata Anak Pendiri Pesantren, Sempat Temui 2 Ustaz Masyhur
Ia merupakan anak bungsu dari pendiri Pondok Pesantren Cijeungjing Ciamis, KH Aceng Masduki yang akrab dipanggil Abah Uci.
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Widia Lestari
Langkah poligaminya menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat.
Meski begitu, pilihannya itu justru didukung penuh oleh istri pertamanya, Emas Putri Yani atau yang disapa Umma.
Umma lah yang mendorong Abah Cijeungjing untuk mencari istri kedua.
Ia juga menyiapkan segala keperluan menikah dari mas kawin hingga pakaiannya.
• Poligaminya Viral, Terbongkar Video Pernikahan Diposting Saudara, Begini Respon Abah Cijeungjing
• Inilah Sosok Abah Cijeungjing, Pria yang Diantar Istri untuk Nikah Lagi, Pernah Temui Habib Rizieq
Abah Cijeungjing berharap cacian yang dilontarkan kepadanya menjadi penggugur dosa.
“Mudah-mudahan itu (yang menjelek-jelekkan) menjadi pembakar dosa-dosa saya. Kalau saya berbuat salah, 1000 kali minta ampun, beristigfar, belum tentu saya diampuni. Tetapi ini ada yang membakar dosa-dosa saya,” ungkap Abah Cijeungjing.
Setelah menikah di Jombang, Abah Cijeungjing tak langsung kembali ke Ciamis.
Iapergi ke Jakarta untuk menemui sejumlah ustaz masyhur, di antaranya Ustaz Dery Sulaiman dan Ustaz Yusuf Mansyur.
“Ustadz Yusuf Mansyur rencananya nanti bulan Rajab akan ke Ciamis ke pesantren (Cijeungjing),” ujarnya.

Pernikahannya Viral
Abah Cijeungjing mengaku tidak menyangka kalau prosesi pernikahannya dengan isteri keduanya di Jombang pada tanggal cantik hari Minggu (02/02/2020) tersebut menjadi viral di medsos setelah ada saudaranya (kakak iparnya) mempostingnya di tik tok.
“Tak ada niat untuk itu (memviralkan). Saya memang sempat melihat teteh (kakak ipar) merekam vidio.
Tapi tak menyangka akan disebarkan lewat medsos. Kami focus ke acara pernikahan.
Kalau rekaman yang di kamar, saya malah tidak tahu sama sekali,” katanya.
Setelah viral di medsos, kakak iparnya yang sudah memposting acara pernikahan keduanya tersebut ungkap Abah Cijeungjing sempat minta maaf, sempat gelisah selama dua hari bahkan sampai menangis.
“Semula saya mau marah, tetapi setelah tafakur. Tidak jadi (marah). Saya menerima yang sudah terjadi sebagai suatu takdir. Mungkin dibalik itu semua ada hikmahnya. Mungkin ini suatu jalan dakwah,” tutur anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut.
(Tribun Jabar/Andri M Dani)