Terowongan Nanjung Sudah Beroperasi tapi Banjir Tetap Terjadi, Begini Kata Pejabat Pemprov Jabar
Banjir yang menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Bandung dan satu kecamatan di Kota Bandung
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Banjir yang menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Bandung dan satu kecamatan di Kota Bandung, Sabtu (25/1/2020), salah satunya dipicu oleh hujan yang turun dengan intensitas atau curah hujan sangat tinggi sejak tiga hari sebelumnya di Bandung Raya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Supriyatno, mengatakan curah hujan tinggi memang terjadi sejak beberapa hari lalu, bahkan dalam waktu yang berjam-jam di Bandung Raya.
"Sudah tiga hari berturut-turut, Ini menyebabkan banjir di Bojongsoang, Dayeuhkolot, Baleendah, Majalaya, dan Rancaekek, antara 10 cm sampai 170 cm," kata Supriyatno saat mengunjungi Baleendah, Sabtu (25/1).
Menurutnya, sejak akhir 2019 telah ada dua tunnel atau terowongan air di nanjung yang mempercepat aliran air Sungai Citarum ke Saguling. Dengan demikian, seperti saat banjir akhir tahun lalu, air cepat surut dalam hitungan jam.
"Tapi sekarang ada masalah. Hujan lebat ini membawa serta sedimentasi lumpur dari hulunya. Hampir setengah yang masuk ke Citarum itu lumpur. Akhirnya terjadi pelambatan arus antara Baleendah sampai Curug Jompong," katanya.
• Batu Bubut di Indramayu, Tempat Calon Penguasa Berdoa Agar Lancar dan Sukses
Padahal, kata Supriyatno, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sudah membuka dua tunnel atau terowongan air di Nanjung tersebut sekaligus. Hal ini menjadi evaluasi bersama untuk selanjutnya memperbaiki penataan di kawasan hulu Citarum supaya tidak membawa lumpur ke Citarum.
"Karena sudah lama digunakan, sampai sebulan, ada endapan dari Baleendah sampai Curug Jompong. Dari Kertasari ini membawa lumpur banyak sekali. Jadi harus ada pengerukan sedimentasi di Citarum," ujarnya.
Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat Linda Al Amin mengatakan mengatasi masalah banjir di Citarum memang harus dilakukan dari berbagai sektor dan oleh semua pihak terkait. BBWS Citarum, katanya, sudah melakukan langkah penanggulangan banjir dengan pengoperasian Terowongan Nanjung.
"Tapi itu saja tidak cukup. Harus ada polder atau danau retensi lain yang harus dibangun untuk menyelesaikan masalah banjir. Tahun ini ada pembangunan danau retensi di Andir, Dayeuhkolot," katanya.
Setelah membuat kolam retensi di Gedebage dan Cieunteung, BBWS Citarum akan memulai pembangunan kolam retensi di Andir Dayeuhkolot dan polder di Bojongsoang untuk mengatasi masalah banjir yang kerap terjadi di selatan Bandung.
• Dulu Naik Rakit atau Jalan Memutar, Kini Warga di Garut ini Bisa Nyebrang Pakai Jembatan Gantung
Pembebasan lahan kolam retensi Andir ini sudah rampung pada akhir 2019 dan tinggal dibangun seperti kolam retensi Cieunteung yang tidak jauh dari lokasinya. Juga untuk polder di Bojongsoang.
Fungsi kolam retensi Andir dan polder Bojongsoang sama seperti kolam retensi Cieunteung di Baleendah. Proses pembangunan kolam retensi Andir dan polder di Bojongsoang sudah dimulai. Fungsi kolam retensi dan polder ini untuk menampung air sementara dan memompa air saat banjir. Ketika kemarau kolam retensi itu bisa digunakan untuk menampung air.
Danau Retensi Andir ini diprogramkan 2020 dengan luas 4,9 hektare. Akan membantu Danau Retensi Cieunteung yang memiliki luas 5 hektare lebih.
Selain membangun kolam retensi dan polder pencegah banjir, upaya lainnya yang dilakukan untuk mencegah banjir ialah dengan pembangunan Terowongan Nanjung yang sudah rampung, normalisasi sungai di Rancaekek, dan pembuatan sodetan Cisangkuy.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/banjir-di-dayeuhkolot-minggu-2612020.jpg)