Cara Mudah Menghindari dan Mengatasi Mata Perih akibat Gas Air Mata, Bermodal Handuk dan Jus Lemon

Pemberian gas air mata dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit pada pihak-pihak tertentu.

Cara Mudah Menghindari dan Mengatasi Mata Perih akibat Gas Air Mata, Bermodal Handuk dan Jus Lemon
Tribunjabar/Daniel Andreand Damanik
Peserta unjuk rasa di Bandung harus digotong 

TRIBUNJABAR.ID - Gas air mata biasa digunakan untuk mengontrol kerusuhan, membubarkan massa, hingga menundukkan individu tertentu.

Pemberian gas air mata dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit pada pihak-pihak tertentu.

Jadi tentu saja terkena gas air mata bukanlah hal yang menyenangkan.

Meski begitu, efek gas air mata hanyalah sementara, dan gejalanya akan berkurang dalam beberapa jam setelah paparan.

Menurut Manajer Keselamatan dan Kepatuhan Operasi servis pembersihan komersil AfterMath, Andrew Whitmarsh, gas air mata bekerja dengan melepaskan inhalan yang menginfiltrasi selaput lendir.

Gas air mata sebetulnya bukanlah gas, melainkan bahan kimia aktif yang terdiri dari senyawa halogen organik sintesis yang paling umum, dan padat pada suhu kamar.

Senyawa umum yang ditemukan dalam gas air mata termasuk chlorobenzalmalononitrile (CS) dan chloroacetophenone (CN).

Meskipun gas air mata dianggap sebagai senjata kimia yang tidak mematikan, efek langsungnya dapat merusak. 

Mereka yang terpapar akan merasakan sejumlah gejala.

Polisi menembakkan gas air mata setelah melancarkan semprotan air untuk menghentikan aksi pelemparan benda keras dilakukan dari arah ribuan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di depan gerbang Kantor DPRD Jabar, Senin (23/9/2019).
Polisi menembakkan gas air mata setelah melancarkan semprotan air untuk menghentikan aksi pelemparan benda keras dilakukan dari arah ribuan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di depan gerbang Kantor DPRD Jabar, Senin (23/9/2019). (Tribun Jabar/Haryanto)

Antara lain mata, hidung, mulut, dan kulit panas serasa terbakar, air mata berlebih, pandangan kabur, dan hidung berair.

Halaman
1234
Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved