Minggu, 26 April 2026

Jabar Targetkan Sampai Akhir 2019, Sebanyak 200 Nelayan Sudah Bersertifikat internasional

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan 200 orang nelayan mengantongi sertifikat Basic Safety Training

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Nelayan merapikan jaring di perahu untuk persiapan melaut di dermaga Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Selasa (6/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan 200 orang nelayan mengantongi sertifikat Basic Safety Training Fisheries (BST-F) pada 2019. Hal tersebut untuk mewujudkan program Nelayan Juara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Jafar Ismail mengatakan sertifikasi tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

"Kami menargetkan sebanyak-banyaknya, tapi tahun ini kurang lebih 200 orang," ujar Jafar seusai acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (12/9/2019).

Jika nelayan tersebut sudah memiliki sertifikat, maka dapat dijadikan sebagai persyaratan jika hendak bekerja di perusahaan asing. Sertifikat tersebut berlaku di seluruh dunia, bahkan di Indonesia.

Untuk mendapatkannya, para nelayan tersebut harus mengikuti pelatihan selama sebulan pada Unit Pelayanan Teknis (UPT) KKP RI di Tegal, Jawa Tengah. Saat ini ada 156 nelayan asal Jabar yang sedang digodok untuk mengantongi sertifikat tersebut.

"Kita ada 156 orang yang dilatih ke sana, karena itu memerlukan waktu satu bulan," ucapnya.

BJ Habibie Alumnus Terbaik SMAK Dago Bandung, Bekas Ruang Kelasnya Kini Ditumbuhi Rumput Liar

Jafar mengatakan target 200 nelayan bersertifikat cenderung sedikit disandingkan jumlah nelayan keseluruhan di Jabar. Hal itu karena untuk mendapatkan sertifikat memerlukan biaya yang cukup besar.

"Karena kita harus mengirim ke Tegal dengan biaya yang cukup mahal. Satu orang itu hampir Rp 40 juta," katanya.

Dengan mengatongi sertifikat, mereka memiliki keterampilan ketika berada di laut untuk terhindar dari kecelakaan. Termasuk memahami standar operasional menangkap ikan.

Disinggung apakah Pemprov Jabar memiliki langkah untuk mengeluarkan sertifikat untuk nelayan, menurut dia, sejauh ini Jabar belum memiliki sarana dan pelatih. Dengan begitu, langkah paling mudah yaitu mengirimkan nelayan mengikuti pelatihan ke Tegal.

"Karena belum ada sarana dan pelatihnya karena itu harus terus disertifikasi juga mereka yang mengeluarkan sertifikasi itu tidak bisa sembarangan. Kita yang paling mudah itu mengirimkan ke sana," katanya.

Soal Tugas Budiman di Persib Bandung dan Blitar Bandung United, Ini Kata Robert Alberts

Kendati demikian, pihaknya akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Mundu Kabupaten Cirebon jurusan Perikanan dan Kelautan. "Yang ada itu di Mundu sudah mengeluarkan BST-F lulusanya sudah otomatis. Tapi di Jabar Selatan belum ada," katanya.

Hanya saja, lanjut Jafar, ada dua daerah yang mengajukan berdirinya SMK Perikanan dan Kelautan. Namun, dia katakan, perlu adanya persiapan yang matang untuk merealisasikan hal tersebut.

"Kemarin yang mengajukan Cianjur dan Cidaun ini ingin juga mempunyai. Tapi harus prasarana dan guru-gurunya dipersiapkan dulu," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved