Ratusan Karung Pakaian Impor Bekas di Gedebage Bandung Disita, Pak Haji Marah Bayar Sewa Tapi Disita
Hasil penelitian menunjukan, dari semua jenis pakaian impor bekas, bakteri dan kuman paling banyak ada di celana pendek, hot pants hingga korset.
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kementerian Perdagangan menyita ratusan karung pakaian impor bekas di komplek pergudangan Safir Permai, Gedebage Kota Bandung, Kamis (5/9).
Pantauan Tribun di salah satu gudang di pertokoan itu, ada ratusan karung atau ball yang dipasangi garis PPNS.
"Kita memiliki kebijakan larangan impor pakaian bekas. Barang-barang ini dikirim dari Medan kemudian dijual dan diedarkan di Bandung," ujar Direktur Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono.
• Bukan Soflens! Bola Mata Balita di Bandung Asli Bisa Berubah Warna, Abu-abu Jadi Biru hingga Hitam
Ia mengatakan, berdasarkan hasil penelitian terhadap pakaian bekas yang didatangkan, itu mengandung banyak kuman dan bakteri.
Seperti bakteri ecoli, jamur hingga bakteri aureus.
"Hasil penelitian menunjukan, dari semua jenis pakaian impor bekas, bakteri dan kuman paling banyak ada di celana pendek, hot pants hingga korset.
Ia menambahkan, Indonesia kaya dengan produk tekstil. Kehadiran pakaian bekas impor mengganggu keberlangsungan produk tekstil Indonesia yang melibatkan pelaku usaha kecil menengah hingga besar.
"Produk teksil kita banyak dan besar. Mohon maaf, kita bangsa besar, ngapain harus mengimpor, membeli pakaian bekas dari bangsa lain sementara kita juga punya produk tekstil sendiri," kata Veri.
Pemilik pakaian bekas impor yang disita, Haji Amir (45) belakangan geram juga.
Ia mengaku sudah menyuplai pakaian bekas impor ke pedagang mulai era pasar pakaian bekas Jalan Cibadak, Kebon Kelapa, Tegallega hingga akhirnya dipindah ke Gedebage.
• Persib Bandung Akan Tambah Pemain Lokal Baru? Ini Jawaban Tim Pelatih
"Bapak bayangkan saja. Pedagang pakaian bekas mulai dari Cibadak hingga Gedebage ini difasilitasi pemerintah. Pedagang bayar sewa, jualan di lahan pemerintah. Disisi lain mereka (Kemendag) melarang pakaian bekas impor," ujar dia.
Belum lagi, kata Amir, pangsa pasar pakaian bekas impor di Bandung sudah ada sejak lebih dari 20 tahun yang lalu.
"Ibaratnya begini pak. Kami tidak mungkin suplai barang pakaian bekas kalau pedagang ecerannya tidak ada, kalau pembelinya tidak ada. Lha ini kan pedagang ecerannya ada, pembeli pakaian bekasnya juga ada," ujar Amir.
• Kumandang Azan di Dalam Rumah Itu Menghilang di Tengah Kobaran Api, Sang Ibu Menggedor tapi Gagal
Kata dia, harga per karung pakaian bekas impor dihargai Rp 2 juta paling rendah. Ia bukan pengimpor, hanya meminta rekannya di Medan untuk mengirim ke Bandung.
"Harganya ada yang Rp 2 juta, Rp 5 juta. Tergantung. Saya datangkan dari Medan," ujar dia.
Meski begitu, terkait penyitaan ini, ia pasrah untuk sementara. "Ya saya lihat dulu lah mereka maunya gimana," ujar dia.