Pedagang di Pasar Cimol Klaim Artis Sampai Desainer Pun Sering Belanja Pakaian Bekas Impor
Sejak tiga dekade itu, masyarakat Kota Bandung kerap mencari dan membeli pakaian bekas di pasar Cimol Gedebage
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Dedy Herdiana
Dalam satu bal, sedikitnya ada 200-an potong pakaian.
Ia tidak pernah tahu barang seperti apa yang ada di dalam satu ball. Namun, pedagang macam Sandi, tahu bal seperti apa yang masih berkualitas.
"Harganya variatif. Dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau impor Amerika Serikat biasanya bagus-bagus dan banyak bermerek," ujar Sandi.
Kemendag mengeluarkan Permendag tentang larangan impor pakaian bekas pada 2015. Salah satu alasannya, pakaian bekas impor menggangu produsen tekstil dan garmen dalam negeri.
Selain itu, pakaian bekas mengandung banyak bakteri. Aturan tetap aturan, minat masyarakat pada pakaian bekas impor juga tak terbendung.
Ia mengakui setiap pakaian bekas impor tidak steril. Namanya pakaian bekas, tentu saja menyimpan sumber penyakit. Setiap kali buka bal, ia mensortir setiap pakaian. Mana pakaian yang masih bagus tanpa cacat, mana yang bermerek dan mana yang jelek.
"Iya lah, makanya saya selalu sarankan untuk direbus dulu sampai mendidih, lalu direndam, dicuci di setrika. Jangan langsung pakai. Saya juga setiap buka bal, beberapa diantaranya disetrika dulu, biar tidak terlalu kusut," ujar Sandi.
Hal senada dikatakan Hari (38). Ia meneruskan usaha orang tuanya yang sudah berjualan pakaian bekas sejak Pasar Cimol berada di Jalan Cibadak, pindah ke Kebon Kelapa, Tegallega hingga akhirnya pindah ke Gedebage.
"Dari dulu sampai sekarang, pemburu pakaian bekas ini selalu ada, tidak pernah menurun,"kata Hari. Di hari-hari biasa memang tidak ramai. Hari menjual celana jeans bekas.
"Tapi kalau sudah Sabtu dan Minggu, pasti suka membludak. Dari dulu jualan celana jins. Per potongnya bisa dijual minimal Rp 100 ribu, jins yang dijual kebanyakan bermerk," kata Hari.
Tidak hanya kaus dan celana, tas juga dijual. Tribun menyambangi kios tas bekas impor di salah satu sudut pasar.
Sejumlah merek ternama dijajakan. Umumnya tas perempuan.
"Ini semua barang ball-an. Impor Amerika Serikat. Kalau ada merek terkenal, dijamin asli, harga bisa nego," ujar Supardi (50), pedagang, sudah berjualan sejak 10 tahun lalu.
Kata dia, pengunjung pasar cimol tidak hanya kalangan biasa. Artis hingga desainer kerap berkunjung ke lapaknya.
"Artis-artis sering kesini. Desainer juga sama sering kesini. Harga mah bisa diatur, mulai dari ratusan ribu lah untuk yang merek terkenal mah," kata Supardi.