Rabu, 13 Mei 2026

Selatan Jawa 20 Kali Dilanda Tsunami, Masyarakat Harus Lakukan Ini agar Selamat dari Ombak 20 Meter

Bila gempa bumi berkekuatan besar itu terjadi, bisa saja tsunami muncul dengan ketinggian gelombang 15-20 meter.

Tayang:
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi | Editor: Widia Lestari
pinterest
Ilustrasi tsunami 

TRIBUNJABAR.ID - Wilayah Selatan Jawa merupakan salah satu wilayah yang berisiko tinggi terkena bencana tsunami.

Hal tersebut berdasar dari kajian ilmiah yang didukung dengan sejarah kejadian bencana tsunami.

Berdasarkan penelitian, megathrust Selatan Jawa berpotensi membangkitkan gempa bumi dengan magnitudo 8,8.

Bila gempa bumi berkekuatan besar itu terjadi, bisa saja tsunami muncul dengan ketinggian gelombang 15-20 meter.

Bukan tanpa sebab, perhitungan tersebut didapat dari pemodelan tsunami.

Namun, masyarakat perlu mengingat gempa bumi tidak dapat diprediksi kapan terjadi.

Tentu saja, gempa bumi magnitudo 8,8 tersebut menjadi momok yang menakutkan.

Berdasarkan rilis yang diterima Tribun Jabar, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Badan Geologi KESDM, Sri Hidayati mengatakan Pantai Selatan Jawa sudah 20 kali dilanda tsunami akibat gempa bumi.

Perhitungan tersebut berdasar dari catatan sejak awal abad ke-20.

Buoy Tsunami, Alat Pendeteksi Tsunami Indonesia yang Disebut Humas BNPB Tak Beroperasi Sejak 2012
Buoy Tsunami, Alat Pendeteksi Tsunami Indonesia yang Disebut Humas BNPB Tak Beroperasi Sejak 2012 (bmkg)

Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).

Pada dekade 1990-an dan 2000-an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006).

Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo 7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal. Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala Magnitudo Momen (Mw) 7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 m.

Sri Hidayati mengatakan, salah satu karaterisitik penting tsunami di selatan Jawa adalah tsunami earthquake, yaitu tsunami besar yang dipicu oleh kejadian gempa bumi dengan magnitudo relatif kecil dan goncangan kadangkala tidak terasa.

"Kejadian tsunami earthquake seperti halnya Tsunami Pangandaran 2006 patut mendapat perhatian lebih karena didahului gempa bumi dengan goncangan lemah sehingga masyarakat sekitar pantai lengah dan tidak sadar terhadap kemungkinan datangnya tsunami," ujarya.

Gempa dan Tsunami Selatan Jawa Tinggi 20 Meter Ancam 584 Desa, BMKG Ajak Masyarakat Terima Kenyataan

105 Desa di Jabar Rawan Diterjang Tsunami, Memanjang dari Pangandaran Hingga Sukabumi

Lalu apa yang harus dilakukan masyarakat bila bencana tsunami terjadi?

Melansir dari Kompas.com, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Agus Wibowo mengimbau masyarakat untuk tetap siaga dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

Agus juga meminta masyarakat agar memahami prinsip 20-20-20 terutama bagi warga yang tinggal di pesisir pantai.

"Kalau warga merasakan gempa selama 20 detik, setelah selesai (guncangan) warga harus segera evakuasi, karena di pantai akan datang tsunami dalam 20 menit, lari ke bangunan yang ketinggiannya minimal 20 meter," ujar Agus menjelaskan prinsip 20-20-20.

Adapun proses evakuasi dengan memilih gedung tinggi meski dekat pantai pun tidak menjadi kendala, asalkan bangunan tersebut masih berdiri kokoh setelah gempa berhenti.

Foto udara suasana Desa Sambolo setelah diterjang tsunami Selat Sunda Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018).
Foto udara suasana Desa Sambolo setelah diterjang tsunami Selat Sunda Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018). (Tribunnews/Jeprima)

Agus mengungkapkan, ciri-ciri bangunan yang mempunyai kualitas tahan gempa yang baik adalah bangunan yang sudah diperiksa dan diuji oleh pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Jadi bangunan-bangunan yang sudah dites yang dibangun dengan kekuatan tahan gempa, tidak sembarang bangunan," ujar Agus.

Selanjutnya, Agus juga mengimbau masyarakat untuk selalu siap siaga menghadapi bencana tersebut.

Untuk mendapat informasi mengenai becana, masyarakat bisa menggunakan aplikasi InaRISK melalui https://inarisk.bnpb.go.id.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved