Serba Serbi Tribun
VIDEO-Aksi Burung Merpati Seharga 1 Miliar Milik Warga Bandung Aristyo Setiawan
MILIUNER. Seorang warga Bandung bernama Aristyo Setiawan (32) mendadak jadi miliuner lantaran burung merpati yang diberi nama...
Penulis: Syarif Pulloh Anwari | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
imbas dari proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Pantauan Tribun Jabar, Jumat (5/4/2019), di Kampung Jajaway, lahan yang bakal menjadi perlintasan kereta cepat ini, kini hanya tersisa puing-puing
bangunan, mulai dari pecahan tembok, kaca, kayu, hingga atap rumah.
Di tengah teriknya matahari pada Jumat siang ini, Beberapa warga di Kampung Jajaway, terlihat sibuk membongkar satu per satu komponen bangunan
rumahnya, menggunakan alat sederhana, kemudian dikumpulkan.
Tak ada penjagaan, membuat beberapa warga sekitar di kampung tersebut terlihat bolak-balik ke lokasi terdampak, untuk mencari puing-puing bangunan
yang dapat kembali dipergunakan.
Tidak hanya Desa Cileunyi Wetan, beberapa desa di Kabupaten Bandung pun terdampak proyek tersebut, yaitu Desa Rancaekek Wetan; Desa Tegalluar,
Kecamatan Bojongsoang; Rancaekek Kulon; dan Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi.
Diberitakan Tribun Jabar sebelumnya proses pembebasan lahan untuk proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) di Kabupaten Bandung sudah mencapai
98 persen atau lebih dari 800 bidang. (*)
Keistimewaan Burung Merpati Rp 1 Miliar dari Bandung, Diberi Nama Raja Hingga Dikasih Harga 'Konyol'
Warga Bandung, Aristyo Setiawan (32), mendadak jadi miliuner setelah burung merpati "Jayabaya" terjual di harga Rp 1 miliar.
Si Jayabaya dibeli warga Depok, Robby, yang memang hobi memelihara burung merpati.
Sebenarnya, Aristyo Setiawan dan Robby sudah saling mengenal sebagai sesama penggemar murung merpati.
Ketika Tribun Jabar menyambangi kediamannya dan tempat lomba merpati bernam Embatama di Jalan Cisaranten, Kota Bandung,Aristyo Setiawan
mengaku tidak pernah menyangka ada yang mau membeli Jayabaya seharga Rp 1 miliar.
Semula, Aristyo Setiawan tidak mau menjual burung merpati kesayangannya itu. Agar tidak ada yang berani memberi burung merpatinya, Aris sengaja
mematok harga tinggi.
"Saya buka Rp 1 M (miliar) itu biar gak dibeli, konyol kalau ada beli burung dengan 1 M. Jadi kalau hobi, hobi apapun, kalau ada yang suka sayanya berat
hati. Makanya saya masang harga setinggi-tingginya, kalau burung itu kita enggak dijual, itu burung kalau enggak hilang atau mati, itu percaya atau enggak
percaya saya udah ngalamin," ujar Aristyo Setiawan kepada Tribun Jabar, Selasa (2/7/2019).
Sejarah Si Jayabaya
Aristyo Setiawan mengaku membeli burung merpati Jayabaya dari temannya bernama Iksan berasal dari Ciparay, Kabupaten Bandung, pada Januari 2018.
Aris menceritakan asal keturunan burung Jayabaya tersebut merupakan hasil perkawinan burung merpati jantan milik Aris dan burung merpati betina milik
Iksan.
Hasilnya, merpati betina itu bertelur dan menetaskan dua merpati jantan dan dua merpati betina.
Lalu Aris dan Iksan sepakat untuk membagi keempat anak burung merpati tersebut, temannya itu kebagian burung merpati Jayabaya itu.
"Jayabaya itu saya beli dari teman saya bernama Iksan di Ciparay, Kabupaten Bandung. Sebetulnya Jayabaya itu masih ternakan saya juga. Jadi bapaknya itu
punya saya, kita kongsi nih dia keluar anaknya empat dibagi dua, Jayabaya ini ada di teman saya," ujarnya.
Setelah itu, burung merpati Jayabaya mengikuti lomba tingkat regional lokal dan nasional.
Prestasi Jayabaya membuat Aris tertarik untuk memberi burung merpati itu meskipun harus merogoh kocek hingga Rp 50 juta.
"Dia nawarin ke saya, karena dia (Iksan) sudah komitmen sama saya, dia enggak jual ke yang lain. Saya ada rezeki, ya udah saya beli, dulu saya beli Rp 50
juta," ujarnya.
Terkait penamaan Jayabaya, Aris mengatakan nama itu diberi temannya Iksan. Menurutnya, nama Jayabaya diambil dari pewayangan yang merupakan raja
asal Kediri.
"Saya juga enggak tahu soalnya itu, yang namainya teman saya itu. Katanya Awalnya namanya itu Arjuna, diambil dari pewayangan tapi takut ketinggian,
jadi namanya Jayabaya asalnya dari raja Kediri," ujarnya.
Sementara itu, terkait prestasi, Aris mengatakan Jayabaya memang sering juara di berbagai ajang lomba merpati tingkat nasional khususnya di ajang kelas
merpati tinggi kolong meja dan masuk empat dari 1200 peserta yang ikutan lomba.
"Kalau burung itu adu kecepatan dan adu ketangkasan, yang lebih cepat dari Jayabaya itu banyak, tapi keistimewaannya itu sering pulang bawa hadiah.
Hadiah itu banyak kategorinya, dia selalu dapat salah satu kategori itu walaupun gak juara satu, misalnya empat besar. Karena susah biasanya, dari total
1200 peserta," ujarnya.
Aris menuturkan setiap perlombaan rutin yang digelar oleh organisasi Penggemar Merpati Tinggi Indonesia (PMTI), Jayabaya itu belasan kali masuk podium
juara 1 atau 10 besar.
Aris mengatakan PMTI menggelar kecepatan lomba burung merpati hingga 22 kali kejuaraan setiap tahun.
Hobi sejak kecil
Ia mengaku, sejak kecil, hobi mengoleksi burung merpati. Mulai 2013, Aristyo Setiawan mulai serius dan mengikuti lomba burung merpati.
"Saya hobi dari waktu kecil dulu. Saya lomba-lomba ini dari tahun 2013," ujarnya.
Aris mengatakan kedua orangtuanya sering marah saat ia mengeloksi burung merpati lantaran kotaran burung tersebut sering mengotori rumah.
"Dulu bapak marah karena kotoran merpati," ujarnya.
Aristyo Setiawan mengoleksi burung 22 ekor untuk ikut adu kecepatan dan sebagiannya sudah terjual termasuk burung Jayabaya yang dijual dengan harga
Rp 1 miliar.
"Burung lomba totalnya di sini ada 22 merpati," ungkapnya.
Selain mengoleksi burung merpati lomba, di kandang terpisah, Aristyo Setiawan memiliki kandang burung merpari khusus ternakan. (*)