Setahun Tragedi Bom Bunuh Diri Surabaya, Begini Nasib Anak-anak Para Bomber Kini

Setahun berlalu, tragedi di Surabaya itu masih meninggalkan beberapa hal termasuk nasib anak-anak pelaku bom bunuh diri.

Setahun Tragedi Bom Bunuh Diri Surabaya, Begini Nasib Anak-anak Para Bomber Kini
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Evan dan Nathan korban ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya di rumah duka Adi Jasa, Jl Demak, Rabu (16/5). Pemakaman Evan dan Nathan akan dilaksanakan pada Minggu (20/5), di Sukorejo, Jawa Timur. 

Saat itu, tepatnya pada 13 Mei 2018, bom yang disiapkan untuk bunuh diri itu tiba-tiba  meledak kamar nomor 2 Blok B lantai 5 Rusunawa Wonocolo, Taman, Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo.

Dalam peristiwa itu pasangan Anton Febrianto-Puspitasari dan seorang anaknya tewas terkena ledakan bom ransel. Sedangkan tiga anak Anton berhasil diselamatkan.

Butuh keluarga

Direktur Rehabilitasi Anak Kementerian Sosial (Kemensos) Kanya Eka Santi mengatakan, tujuh anak pelaku bom Surabaya terdiri dari empat anak perempuan dan tiga anak laki-laki yang usianya bervariatif mulai dari 7 tahun, 8 tahun, 10 tahun, 13 tahun dan 14  tahun.

Mereka telah diasuh Kemensos selama 12 bulan.

Mereka selalu didampingi petugas bersama neneknya lantaran anak-anak membutuhkan sosok kehadiran keluarga.

"Karena orangtuanya sudah meninggal maka dari itu kami menghadirkan neneknya dari awal pengasuhan di Kemensos," ujar Kanya Eka Santi.

Kanya menjelaskan, sebetulnya upaya Kemensos melalui rehabilitasi sosial adalah usaha yang dilakukannya  secepat mungkin untuk mengembalikan anak pada keluarga dan komunitas lingkungannya.

Kisah Haru di Balik Ruang IGD Usai Bom Surabaya: di Hari Penuh Kebencian, Kutemukan Wajah Welas Asih

Meski demikian, masalahnya komunitas di mana anak-anak ini tinggal itu juga belum sepenuhnya menerima. 

Sehingga pihaknya khawatir potensi akan ada masalah baru.

Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan pendekatan, apalagi melihat Pemprov Jatim juga mampu untuk bekerja sama dengan sangat baik untuk bisa memastikan ini.

"Saya pikir harus segera mungkin dikembalikan, karena dari sisi perkembangan mereka sejauh ini sudah bisa beradaptasi dengan baik," ungkapnya.

Dia memaparkan, mereka sudah beradaptasi secara baik artinya kehidupan sehari-hari anak-anak tersebut yang tadinya mengalami guncangan secara psikologis dan juga secara sosial, mereka juga mengalami hambatan untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya, sekarang berangsur-angsur sudah membaik.

Bahkan pemikiran atau mindset mereka terhadap kebangsaan misalnya Pancasila sudah mulai membaik.

Selain itu, mindset terhadap aparat juga membaik.

"Mereka sudah membaur dengan teman-teman sebayanya. Tadinya kan mereka menyendiri,  karena mereka lebih banyak berpikir tentang masuk surga dan lainnya seperti itu ya. Dan ada anak yang kecil itu juga selalu menangis, tapi sekarang sangat adaptif. Dan terutama itu membantu karena ada neneknya itu," bebernya.

Kanya menjelaskan, memang ada beberapa anak yang juga selalu membayangkan teman-teman temannya sudah di surga.

"Tapi kita melakukan terapi psikososial yang diupayakan untuk mengubah mindset, feeling mereka sekaligus mengubah perilaku mereka sehingga bisa sejalan ketiga aspek itu," terangnya.

Dikatakannya, ketika mindset berubah maka feeling mereka harus berubah dan juga perilakunya.

Perilakunya bisa ditunjukkan dengan bagaimana mereka mau bermain dengan teman-temannya dan menganggap aparat itu sesorang bukan musuh misalnya. Itu merupakan perubahan yang komprehensif.

"Jadi memang butuh waktu yang lama tetapi perubahan ini sangat terasa. Misalnya, dari gambar mereka saja kami juga ada menggambar dari misalnya ada gambar senapan dan penggunaan warna yang buram, sekarang mereka sudah bisa menggambar grup sepak bola kesayangannya  dan pilihan warnanya juga lebih cerah. Itu menunjukkan ada perubahan dari warna buram jadi senjata itu yang ada dipikiran kan jadi sudah berbuah," ungkap Kanya.

Ditambahkannya, pihaknya bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia (UI) untuk mengubah mindset negatif yang sudah mengakar pada diri anak tersebut.

Adapun prosesnya ada beberapa langkah oleh pekerja sosial dan para psikolog dimulai dengan mengajak mereka bermain, mengajak mereka ke dunianya. Karena tidak bisa pihaknya melakukan konfrontasi bahwa itu salah, tapi kemudian memberikan contoh-contoh yang bisa dimaknai oleh mereka. 

"Misalnya, memberikan pembanding-pembanding untuk usia standar mereka bahwa paham apapun perbuatan yang dilakukan sepanjang bisa masuk surga itu dikonfrontir dengan cara soft," jelasnya. (Mohammad Romadoni)

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Setahun Tragedi Bom Surabaya, Anak-anak Pelaku Masih Dirawat Kementerian Sosial

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved