2 Tekong Perdagangan Orang Diringkus di Lombok, Korban Tak Terima Gaji 8 Bulan

Dua gembong (tekong) pelaku perdagangan orang yang beroperasi di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur diringkus Polda NTB.

Fahdi Fahlevi/Tribunnews.com
Ilustrasi korban perdagangan orang. Dua gembong (tekong) pelaku perdagangan orang yang beroperasi di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur diringkus Polda NTB. 

TRIBUNJABAR.ID, MATARAM- Dua gembong (tekong) pelaku perdagangan orang yang beroperasi di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur diringkus Polda NTB.

Dua pelaku perdagangan orang itu adalah Hj. Asm alias BE (48) dan Evi (42). BE tercatat sebagai warga Desa Kuripan, Lombok Barat, sedangkan Evi merupakan warga Desa Kuripan yang menetap di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur.

Korban aksi kejahatan BE dan Evi adalah para buruh migran Indonesia (BMI) dan tenaga kerja wanita (TKW).

Kasubdit Ditreskrimus Polda NTB Ni Made Pujewati, mengatakan banyak buruh migran Indonesia (BMI) dan tenaga kerja wanita (TKW) yang jadi korban perdagangan orang, sehingga kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) jadi prioritas yang harus dituntaskan.

Modus BE dan Evi yakni bersekongkol merekrut buruh migran Indonesia untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di Abu Dhabi, kemudian belakangan ke Damaskus, Suriah.

Para korban tertarik lantaran diimingi gaji Rp 6 juta per bulan.

Kisah Korban Perdagangan Orang Diperlakukan Buruk Oknum KBRI di Suriah Hingga Dipenjara Saat Hamil

Sindikat Perdagangan Orang Jaringan Timur Tengah Raup Keuntungan Miliaran Rupiah

"Waktu itu perekrutannya September 2015, setelah korban dipulangkan kasus ini baru terungkap," kata Pujewati, Selasa (8/5/2019).

Menurut Pujewati, kasus ini baru terungkap ketika ada korban yang berani melapor ke polisi.

Korban bernama SH yang berasal dari desa yang sama dengan pelaku.

Korban SH ini direkrut oleh BE, kemudian dibawa ke Malang, Jawa Timur, dan ditampung di rumah Evi.

Evi ini tak lain adalah keponakan BE.

"Korban bersama rekan-rekannya ditampung di Malang selama tiga pekan, setelah itu dibawa ke Batam mengunakan bus. Selama ditampung, korban sama sekali tak mendapatkan pelatihan kerja, justru diberangkatkan ke Batam, kemudian ke Kuala Lumpur, Malaysia, melakui jalur laut atau mengunakan kapal fery," kata Pujewati.

Di Kuala Lumpur, korban SH ditampung lagi selama dua hari di rumah seseorang bernama Fadi.

Diduga Jadi Korban Trafficking, Susi Ditemukan di Bekasi, Sempat Menangis Telepon Suami

Dari situ, korban kemudian diberangkatkan mengunakan pesawat, transit di Kuwait, menuju ke Damaskus-Suriah, yang sebenarnya bukan negara tujuan korban.

Halaman
123
Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved