Hari Ini Tarif Jasa Ojek Online Diberlakukan, Masih Banyak Konsumen Belum Tahu

Mulai hari ini, 1 Mei 2019, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor

Hari Ini Tarif Jasa Ojek Online Diberlakukan, Masih Banyak Konsumen Belum Tahu
Istimewa
Ilustrasi: Ojek Online 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mulai hari ini, 1 Mei 2019, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor Yang Digunakan Untuk Kepentingan Masyarakat dan Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KP 348 Tahun 2019 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor Yang Digunakan Untuk Kepentingan Masyarakat Yang Dilakukan Dengan Aplikasi akan efektif diberlakukan.

Meski begitu, ternyata masih banyak masyarakat yang belum tahu terkait pemberlakuan tersebut. Hendra (44), warga Ujungberung Bandung mengaku pernah mendengar dan membaca adanya rencana pemberlakuan tarif ojek online atau ojol baru. Namun karyawan swasta tersebut tidak tahu kalau tarif ini mulai berlaku 1 Mei 2019.

"Pernah denger, pernah baca di media juga. Tapi ngga tau kalau hari ini mulai berlaku. Tadi coba juga pesan ojol, ngga tahu apakah masih tarif lama atau sudah tarif baru, tidak kelihatan perbedaan signifikan," katanya, Rabu (1/5/2019).

Hal serupa diungkapkan Erwina, warga Jalan Turangga Bandung. Ia juga mengaku tidak tahu adanya pemberlakuan tarif ojol mulai hari ini. Sebagai pengguna ojol, karyawati swasta ini sangat terbantu dengan adanya ojol. Selain cepat sampai ke tujuan, naik ojol dinilai jauh lebih murah dari angkutan lain.

"Kalau tarif, yah lumayan lebih irit daripada naik angkutan lain. Naik ojol juga bisa jemput langsung di depan rumah. Tapi yang jelas, si Bandung yang macet pas pagi atau sore, ojol bantu banget untuk sampai kantor dan rumah. Makanya ada tarif baru, saya baru tahu. Semoga ngga naik terlalu tinggi," katanya.

SDN Pasir Kaliki di Jatigede Sumedang, Ruang Kelasnya Lapuk, Mulai Lantai hingga Atap Rusak Parah

Sementara itu, Pengamat Pemasaran dan Komunikasi Pemasaran Universitas Hasanuddin, Muh Akbar, mengatakan
untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan layanan transportasi berbasis aplikasi di Indonesia, para pihak yang terlibat dalam model bisnis tersebut, dinilai harus menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga iklim berusaha yang lebih kondusif.

Menurutnya, para pihak tersebut juga mesti berupaya menjaga penguatan fundamental bisnisnya agar sektor ini kian menciptakan harapan bagi pemainnya. “Para pelaku usaha, termasuk driver bisa bersama-sama menjaga fundamental bisnis ini. Para driver online harus mampu pula menjaga keseimbangan antara kenaikan tarif dengan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggannya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, Rabu (1/5/2019).

Seperti diketahui, kondisi bisnis ojek online atau dikenal dengan sebutan ojol, sejak kehadirannya pertama kali di Indonesia, dinilai masih membutuhkan penguatan fundamental bisnis yang lebih baik, dan menghindari perubahan atau kenaikan tarif yang signifikan.

Krisdayanti Siap-siap Lolos ke Senayan, Megawati Sempat Beri Pesan Penting Saat Tunjuk KD Jadi Kader

Menurut Akbar, kalupun terjadi penyesuaian tarif, hal itu dipantau dan tidak mengalami kenaikan yang drastis, sehingga nantinya model bisnis ini terhindar dari penurunan permintaan dari konsumen. “Setiap bisnis memiliki strategi untuk tumbuh dan berkembang, termasuk kesiapan dalam mengantisipasi persaingan. Soal tarif, mungkin bisa naik bisa turun mengikuti segmentasinya. Namun demikian, tarif itu harus ada yang pantau, tidak bisa seenaknya naik atau turun,” katanya.

Seperti diketahui, terhitung 1 Mei 2019 pemerintah akan memberlakukan Peraturan Menteri No.12 yang salah satunya terkait soal ketentuan tarif batas atas dan batas bawah untuk ojek online. Berdasarkan hasil survei, 74% responden mengatakan tarif ojok online sudah sesuai hingga sangat mahal. Persentase ini juga menjadi acuan RISED untuk menunjukkan potensi kehilangan konsumen yang akan dialami oleh aplikator.

Gatot Prasetyo Beri Dua Catatan Penting untuk Kiper Persib Bandung

Bisnis ini dianggap agak sensitif karena yang menggunakan ojek online rata-rata adalah yang memiliki pendapatan Rp 2 juta ke bawah hingga Rp 7 juta. Sehingga sekecil apa pun perubahan pasar akan membuat konsumen melakukan evaluasi jumlah pengeluaran. Hal ini membuat RISED menyarankan agar pemerintah lebih berhati-hati dalam merubah harga tarif ojek online.

RISED juga menyampaikan, konsumen juga berpotensi untuk beralih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini dipastikan akan kembali menimbulkan masalah kemacetan, yang selama ini mulai terurai persoalannya. Berdasarkan hasil survei, 8,85% responden tidak pernah kembali menggunakan kendaraan pribadi setelah adanya ojol. 72,52% responden masih menggunakan kendaraan pribadi dengan frekuensi 1 sampai 10 kali per minggu.

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved