Kelas Menengah Terhimpit Kenaikan Harga, Pengamat Ekonomi: Perlu Diwaspadai, Sumber Utama Permintaan
Ketika kelompok kelas menengah tertekan, dampaknya akan terasa luas, termasuk pada sektor riil.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga energi menekan kelas menengah dan berpotensi memperlambat konsumsi serta mendorong inflasi.
- Dampak terasa luas karena kelas menengah adalah penopang utama permintaan, sementara daya beli kelompok bawah sudah tertekan.
- Kenaikan harga tidak hanya pada BBM dan LPG, tapi juga produk turunan seperti plastik dan kebutuhan lain.
- Faktor global, terutama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, membuat harga energi dunia tetap fluktuatif.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tekanan ekonomi terhadap kelas menengah dinilai semakin kuat seiring kenaikan harga energi yang terjadi secara bersamaan.
Hal tersebut disampaikan Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi.
Acu, sapaan akrabnya menilai kondisi ini berpotensi memicu perlambatan konsumsi sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
Menurut dia, kelas menengah merupakan penopang utama permintaan dalam perekonomian.
Ketika kelompok kelas menengah tertekan, dampaknya akan terasa luas, termasuk pada sektor riil.
Baca juga: Harga BBM Naik, Pengamat Ekonomi: Waspada Beban Subsidi dan Penurunan Daya Beli
“Kalau kelas menengah terhimpit, ini yang perlu diwaspadai. Karena mereka sumber utama permintaan. Sementara kelompok bawah daya belinya juga sudah tertekan,” ujarnya, saat dihubungi Tribunjabar.id, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), tetapi juga merambat ke berbagai produk turunan.
Beberapa komoditas, seperti plastik hingga bahan kebutuhan lain turut mengalami kenaikan, sehingga menambah beban pengeluaran masyarakat.
“Kenaikan ini sifatnya akumulatif. Tidak hanya energi, tapi juga produk turunannya ikut naik. Ini yang mendorong potensi inflasi meningkat, baik langsung maupun tidak langsung,” katanya.
Acu menyebut faktor global yang turut memengaruhi kondisi tersebut. Meski harga minyak dunia sempat mengalami penurunan, ketidakpastian geopolitik masih tinggi, terutama terkait konflik di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai situasi justru cenderung memanas, sehingga berpotensi kembali mendorong fluktuasi harga energi global.
“Belum ada kepastian dari dinamika geopolitik, sehingga tekanan harga masih mungkin terjadi,” tambahnya.
Adapun strategi bertahan untuk kelas menengah, Acu menyarankan masyarakat, untuk lebih cermat mengelola keuangan.
Menurutnya, pentingnya menyusun skala prioritas dalam pengeluaran rumah tangga.
| Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini Selasa 21 April 2026 di Seluruh Indonesia, Cek Pertamax |
|
|---|
| Curhat Pilu Warga Bandung Tempuh 10 KM Demi LPG 12 Kg Rp234 Ribu, Di SPBU Malah Kosong |
|
|---|
| Kenaikan LPG dan BBM Picu Inflasi, Pengamat Sebut Sektor Usaha Kuliner Mengalami Peningkatan Biaya |
|
|---|
| LPG Non-Subsidi Naik, Pedagang F&B Cihapit Waswas Harga Bahan Pokok Ikut Terkerek |
|
|---|
| Harga LPG Non-Subsidi di Bandung Naik Mendadak! Tabung 12 Kg Kini Tembus Rp228 Ribu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Penjual-plastik-di-Pasar-Kosambi-Kota-Bandung-Mi.jpg)