Fenomena Hari Benar-benar Gelap 200 Tahun Lalu, Warga Berdoa dan Menangis, Menanti Tiupan Sangkakala
Hari itu, 19 Mei 1780, warga New England benar-benar ketakutan. Hari yang harusnya disinari sinar matahari, mendadak gelap seperti malam.
Penulis: Indan Kurnia Efendi | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Dugaan lainnya adalah karena letusan gunung berapi. Merujuk pada letusan gunung Eyjafjallajokull pada tahun 2010 yang menyebabkan cukup abu untuk memasuki atmosfer.
Thomas Choularton, profesor ilmu atmosfer di Universitas Manchester mengatakan, awan abu vulkanik sering menyebabkan 'hari kuning'. Ia menambahkan, letusan di Gunung St Helens di Negara Bagian Washington telah menurunkan tingkat cahaya dalam beberapa dekade terakhir.
• Lakukan Verifikasi, BKPPD Temukan Kesalahan dalam Berkas Pendaftaran CPNS
Namun, belum ada catatan aktivitas gunung berapi pada 1780, katanya, membuat awan abu besar penjelasan yang tidak mungkin.
"Sebuah meteorit juga tidak mungkin," kata Prof Choularton.
Sementara itu, profesor Samuel Williams dari Massachusetts yang juga mempelajari fenomena, menemukan satu hipotesa baru.
Ia mengumpulkan semua jenis laporan dan pemberitahuan surat kabar dari seluruh daerah.
"Di beberapa tempat, kegelapan itu begitu luas, orang-orang tidak bisa melihat untuk membaca koran di udara terbuka. Tingkat kegelapan ini sangat luar biasa,” kata Samuel Williams.
Cuaca di Northeast Amerika benar-benar dipelajari oleh Prof. Williams.
• Alex Mendengar Letusan Sebelum Rumahnya Terbakar
Prof. Williams menyimpulkan bahwa fenomena itu disebabkan oleh asap dari kebakaran hutan yang memunculkan kabut tebal dan lapisan awan yang sangat rendah.
Bahkan kebakaran itu menyebabkan air di sungai menjadi gelap dan kotor oleh abu dan daun yang terbakar.
Nyatanya, kebakaran hutan besar dapat berkontribusi terhadap kegelapan total dengan memproduksi jelaga dalam jumlah besar yang tetap tersendat di atmosfer dalam waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan.
Kebakaran itu diumumkan sebagai kemungkinan penyebab kegelapan misterius di New England pada 1780.
• Ibu Haringga Sirla Minta Pelaku Penganiayaan Anaknya Dihukum Berat, Mirah: Nyawa Harus Dibayar Nyawa