Minggu, 12 April 2026

Simulasi Bencana Akan Digelar DKPB Kota Bandung di Setiap Sekolah

"Bulan depan kami mulai merambah ke sekolah. Ke sekolah sebetulnya mudah, tinggal menghadap ke kepala sekolah. Lalu, sebagai narasumber, kami memberik

Penulis: Yongky Yulius | Editor: Theofilus Richard
Tribun Jabar/Yongky Yulius
Suasana di SMAN 16 Bandung, Selasa (10/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Yongky Yulius

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Potensi gempa bumi dan likuifaksi di Kota Bandung telah menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung pun akan memulai simulasi kebencanaan di sekolah-sekolah.

Kabid Penanggulangan Bencana DKPB, Sihar Pandapotan, mengatakan bahwa pelaksanaan simulasi untuk sekolah akan mulai dilaksanakan pihaknya pada bulan depan.

"Bulan depan kami mulai merambah ke sekolah. Ke sekolah sebetulnya mudah, tinggal menghadap ke kepala sekolah. Lalu, sebagai narasumber, kami memberikan penjelasan. Setelah itu, langsung praktik kecil, dan sebagai evaluator, akan kami evaluasi," ujarnya saat ditemui Tribun Jabar di kantornya, Jalan Sukabumi, Kota Bandung, Jumat (12/10/2018).

Sihar tak memungkiri, saat ini, materi simulasi kebencanaan yang paling utama adalah materi soal gempa.

Kendati demikian, tentu saja materi yang akan diberikan di sekolah-sekolah akan berbeda dengan materi yang diberikan di gedung publik lainnya.

Di NTT, Pelaku Wisata Wajib Pungut Sampah, Gubernur Selalu Bawa Botol Air dari Rumah

Kekeringan di Kabupaten Tasikmalaya Semakin Meluas, Ratusan Hektare Sawah Terdampak Kemarau Panjang

"Materi yang disampaikan berbeda. Tentu tergantung sekolah itu karakteristik bangunannya seperti apa, titik kumpulnya di mana, apakah sudah ada tanda jalur evakuasi. Ada yang kelasnya satu lantai, ada yang kelasnya di lantai tiga. Jadi itu situasional, berbeda-beda," katanya.

Tujuan diadakan simulasi di sekolah-sekolah itu, lanjut Sihar, agar anak-anak mengetahui yang harus dilakukan ketika terjadi gempa.

Misal, harus ke mana mereka pergi, harus di mana mencari perlindungan, dan harus mendengarkan siapa saat terjadi gempa.

"Tahun 2017 sebetulnya kami sudah melakukan di SD Al Fitrah, Antapani. Bagaimana ketika belajar di gedung tingkat tiga, lalu terjadi gempa, anak-anak tahu harus ke mana, seperti apa," katanya.

Sihar berharap, simulasi di sekolah-sekolah ini bisa dilakukan secara rutin.

Bahkan, kalau bisa, ke depannya simulasi dilakukan oleh pihak sekolah sendiri tanpa didampingi DKPB.

"Harus rutin, saya ingin semua sekolah di Bandung melakukan simulasi. Tiga bulan sekali, sekolah diharapkan bisa mengadakan sendiri. Paling sedikit, ketika simulasi kecil, paling tidak anak-anak memahami apa yang harus dilakukan," katanya.

Stenly Tatoy Beberkan Kisah Ajaib Bertahan di Atas Rakit Selama 3 Bulan di Lautan

Terjadi Kebakaran yang Tewaskan Tiga Orang saat Pemadaman Listrik di Cimahi, Ini Kata PLN

Lagi, Nelayan Minahasa Hanyut di Laut Selama 3 Bulan, Terdampar di Jepang

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved