Minggu, 19 April 2026

Jenuh Jadi Buruh Pabrik, Nanang Beralih Jadi Perajin Kendang: Saya Merasa Puas

Sebelum beralih pekerjaan menjadi perajin gendang, Nanang adalah buruh pabrik di sebuah industri tekstil terbesar di Kabupaten Sumedang.

Penulis: Hakim Baihaqi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Nanang (50), perajin gendang di Dusun Cimanggung, Desa Cimanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Kamis (4/10/2018). 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG- Nanang (50), warga Dusun Cimanggung, Desa Cimanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, menjadi perajin alat musik pukul, gendang atau biasa disebut kendang.

Sebelum beralih pekerjaan menjadi perajin gendang, Nanang adalah buruh pabrik di sebuah industri tekstil terbesar di Kabupaten Sumedang.

Ia bekerja selama hampir 16 tahun di pabrik itu, berangkat kerja saat matahari terbit kemudian pulang ke rumah saat matahari terbenam.

Selama itu pula, menghabiskan waktu bersama keluarga adalah sebuah momen langka baginya lantaran hanya bisa dilakukan satu kali dalam setiap pekan.

Pria kelahiran Sumedang, 6 Desember 1968, itu merasa terjebak dalam rutinitas. Lalu pada 2006, ia bertekad mencari peruntungan dari bidang lain.

Tiga Kebohongan Ini Telah Dibuat Ratna Sarumpaet dan Bikin Geger

Resmi, Laga Persib Bandung Vs Madura United Bakal Digelar di Stadion Mandala, Jayapura Papua

Berbekal kecintaan pada seni budaya Sunda dan melihat banyaknya gelondongan kayu di sekitar tempat ia tinggal, dia terinspirasi untuk menjadi kendang.

Bermodalkan alat sederhana, ia menyulap gelondongan-gelondongan kayu menjadi sebuah alat musik pukul yang biasa digunakan untuk mengiringi pagelaran Sunda semisal jaipong, wayang golek, dan pencak silat.

"Saya putuskan jadi pembuat kendang karena merasa jenuh saat waktu kerja dan waktu terbuang sia-sia. Ini keputusan terbaik bagi saya," ujar Nanang kepada Tribun Jabar di bengkel produksi kendang di kediamannya, Kamis (4/10/2018).

Dibantu anak dan saudara, setiap hari, Nanang mampu memproduksi 3-4 set kendang. Setiap set kendang terdiri dari tiga ukuran yang memiliki bentuk dan suara berbeda.


Setiap set gendang dijual relatif cukup terjangkau, yakni mulai dari harga Rp 500 ribu hingga Rp 1,7 juta.

"Tergantung keinginan juga. Setiap bulan, mendapatkan keuntungan hingga Rp 5 juta. Saya merasa puas karena (buat gendang) memakai alat sederhana," kata Nanang.

Nanang menggunakan kayu nangka lokal Jawa Barat dan menggunakan kulit kerbau sebagai bahan dasar pembuatan gendang.

"Kolaborasi kayu pohon nangka dan kulit kerbau menghasilkan suara jauh lebih bagus," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved