Selasa, 12 Mei 2026

Ribuan Buruh Pabrik di Bandung Terancam PHK, Jika Pelemahan Kurs Rupiah Berlanjut

Terus melemahnya nilai tukar rupiah (kurs rupiah) terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada industri tekstil di Kabupaten Bandung.

Tayang:
Penulis: Seli Andina Miranti | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR/SELI ANDINA
Seorang pekerja sedang mengoperasikan mesin penenun di perusahaan kain sarung di Majalaya, Kabupaten Bandung, Senin (10/9/2018). 

"Itu pun sudah menyusut karena banyak pengusaha yang tak kuat. Awalnya, kan, ada sampai 350 pengusaha," ujar Agus.

Agus dan Aep berharap pemerintah memberikan perhatian dan peka terhadap tekanan yang dihadapi para pengusaha kain akibat "pukulan" menguatnya nilai tukar dolar ini.

"Tanpa campur tangan pemerintah, usaha kain milik para pengusaha menengah ke bawah di kabupaten ini hampir bisa dipastikan akan gulung tikar karena tak sanggup menutupi biaya bahan baku," kata Aep.

Aep mengatakan, selama ini harga benang selalu ditentukan oleh Asosiasi Produsen Benang. Para pengusaha kain hanya bisa menurut apa yang ditentukan asosiasi ini.

"Seperti kerbau dicocok hidung, naik seribu kami ikuti, naik dua ribu juga kami ikuti. Tidak pernah ada tawar-menawar dan tidak pernah pula ada informasi penyebab kenaikan," kata Aep.

Meski demikian, baik Aep maupun Agus menegaskan, apa pun caranya, para pengusaha tentu akan mati-matian berjuang agar tak sampai mem-PHK para karyawannya. "Tapi, itu (memberhentikan para pekerja) pasti akan dilakukan sebagai jalan terakhir jika usaha memang sudah tidak bisa berjalan lagi," ujar Aep.

Di Kabupaten Bandung saja, ujarnya, ada puluhan ribu orang yang menggantungkan hidup pada sektor kain dan produk kain, mulai dari pekerja pabrik, distributor, hingga pedagang. Sebagian besar pekerja di sektor kain tersebut berstatus buruh yang menggantungkan hidup hanya dari pekerjaan itu.

"Kalau sampai terpaksa diputus, bayangkan berapa banyak pengangguran baru yang akan lahir. Ini sektor padat karya," ujarnya.

Agus mengatakan, "pil pahit" memutuskan hubungan kerja akan terpaksa ditelan jika harga bahan baku terus-menerus naik. "PHK akan menjadi pilihan terakhir, sebab kami, para pengusaha, pun sebetulnya tidak mau memutus. Itu sumber nafkah orang," kata Agus.

Agar tidak merugi, kata Agus, para pengusaha bisa saja tetap melakukan produksi, tapi menahan semua produknya ke pasaran hingga harga kembali stabil. Namun, pilihan itu membutuhkan modal yang besar.

"Saat ini kami masih bisa menahan produk, tidak dijual dulu. Tapi harus sampai kapan? Modal kami terbatas," kata Agus.

Aep memprediksi, upaya menahan produk yang dilakukan mayoritas pengusaha kain di Majalaya hanya bisa dilakukan hingga sebulanan ke depan.

"Jika dalan sebulan ini harga bahan baku tak juga turun, para pengusaha mungkin akan terpaksa merumahkan atau bahkan mem-PHK para karyawannya. Ini sudah di depan mata. Pengangguran massal di Majalaya sudah di depan mata," kata Aep.

Menurut Aep, pengangguran menjadi sangat mencemaskan mengingat mayoritas karyawan pabrik-pabrik kain, terutama di pabrik-pabrik di kawasan Paseh, Majalaya, dan Solokan Jeruk, hanya lulusan SD atau SMP.

"Tanpa keahlian lain, mereka akan sulit untuk kembali memperoleh pekerjaan," kata Aep.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved