Kamis, 16 April 2026

Keseruan Perjalanan Panjang Naratas Akar, Atap Class Eurasia 2018 ke Helsinki, Oslo, dan Kuching

Dalam event itu, masyarakat mendapat suguhan menarik tentang perjalanan Naratas Akar Atap Class Eurasia 2018 ke Helsinki, Oslo, dan Kuching yang . .

Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Naratas Akar, Atap Class Eurasia 2018 di Bandung Creative Hub, Jalan Laswi, Senin (3/9/2018). 

"Program ini diharapkan dapat melahirkan pola baru yang akan menjembatani pembangunan bersama ranah musik independen dengan berbagai pihak, dari pemerintahan, aparat, korporat, perguruan tinggi, serta kelompok-kelompok masyarakat lain," ujarnya.

Kimung menuturkan bahwa hasil dari program Naratas Akar, Atap Class Eurasia 2018 dibuat menjadi video jurnal perjalanan dan buku foto yang memotret bagaimana keterpaduan akar budaya musik Eropa berpadu dengan akar budaya Indonesia, dan menghasilkan kultur hibrida yang terus beregenerasi mencari bentuk kebangsaannya sendiri setelah perjalanan 30 tahun ranah musik independen.

Naratas Akar, Atap Class Eurasia Skill Skool 2018, kata dia, merupakan program lanjutan yang digelar karena keterpaduan antara musisi, akademisi, pemerintah, dan kelompok masyarakat Iainnya merupakan salah satu kunci kemajuan industri musik di ranah global.

Kesadaran untuk memainkan peran masing-masing dalam pola kolaboratif, telah membangun spirit keterbukaan atas berbagai kemungkinan baru pembangunan ranah musik Indonesia.

Tiga penulis Atap Class (kiri ke kanan) Astria Fadhilah Primantari, Dini Nurdiyanti, dan Hinhin Agung Daryana (kedua kanan) didampingi perwakilan Atap Class, Kimung (kanan) di Bandung Creative Hub, Jalan Laswi, Senin (3/9/2018).
Tiga penulis Atap Class (kiri ke kanan) Astria Fadhilah Primantari, Dini Nurdiyanti, dan Hinhin Agung Daryana (kedua kanan) didampingi perwakilan Atap Class, Kimung (kanan) di Bandung Creative Hub, Jalan Laswi, Senin (3/9/2018). (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Dalam kesempatan itu, tiga penulis Atap Class menuturkan bagaimana proses penerbitan buku "Bandung Bawahtanah" tidak dilalui dalam waktu singkat dan instan, namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan teramat besar.

"Kami harus rela door to door untuk menggalang dana agar bisa berangkat," kata Astria Fadhulah Primantari.

Sementara menurut Dini Nurdiyanti, dirinya merasa tertantang membuat sebuah buku yang memberikan nilai sejarah tinggi bagi musik indie tanah air.

"Sebelumnya aku hanya bisa membuat tulisan cerpen, esai, dan sekarang harus menulis buku sejarah musik, itu sebuah tantangan banget," katanya.

Hal sama diungkapkan Hinhin Agung Daryana.

Menurut Hinhin, ‎tantangan terberat adalah kesiapan mental dan Fisik menjelang keberangkatan melakukan perjalanan panjang.

"Sempat deg-degan karena visa baru keluar empat hari menjelang keberangkatan, saya pikir tadinya gak bakal keluar (visa keberangkatan)," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved