Khawatir Dipermainkan Tenggulak, Petani Minta Pemerintah Ikut Stabilkan Harga Garam
"Petani di sini tidak bisa menjual garam hasil panennya selain ke tengkulak karena utang itu," kata Warpin.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, khawatir harga garam kembali turun.
Karenanya, para petani berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga garam di tingkat petani.
"Dari Juli 2018, harga garam turun terus-terusan, awalnya Rp 2.000, turun jadi Rp 1.600, Rp 1.200, Rp 1.000, Rp 800, dan sekarang Rp 500 per kilogram," ujar Warpin (49), petani garam, ketika ditemui di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Selasa (28/8/2018).
Ia berharap, Pemerintah dapat mengatasi persoalan harga garam di tingkat petani.
• 3 Sisi Lain dari Pebulutangkis Jonatan Christie, Pernah Main Film hingga Bikin Fans Wanita Menjerit
• PSSI Segera Tentukan Nasib Luis Milla di Timnas Indonesia
Selama ini, Warpin menilai harga garam dipermainkan oleh oknum tidak bertanggung jawab, khususnya tengkulak.
Pasalnya, para petani di Desa Rawaurip rata-rata terjerat utang ke tengkulak.
"Petani di sini tidak bisa menjual garam hasil panennya selain ke tengkulak karena utang itu," kata Warpin.
Karenanya, jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan, ia khawatir para tengkulak kembali menurunkan harga garam di tingkat petani. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/petani-garam-kabupaten-cirebon_20180709_173105.jpg)