Rabu, 13 Mei 2026

Berawal dari Pilkada DKI Jakarta, Kelompok MCA Kian Brutal Sebarkan Fitnah

Kelompok ini terkenal karena kerap menyebarkan isu tidak benar mengenai Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan sebutan Ahok.

Tayang:
Penulis: Isal Mawardi | Editor: Isal Mawardi
Istimewa
Pelaku penyebaran isu provokatif dan ujaran kebencian yang terorganisir dengan nama The Family Muslim Cyber Army saat rilis di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (28/02/2018). Modus kelompok tersebut ialah menyebar ujaran kebencian dan konten berbau SARA, MCA juga menyebarkan konten berisi virus kepada pihak tertentu yang bisa merusak perangkat si penerima (Kompas/ Maulana Mahardhika) 

TRIBUNJABAR.ID - Kepolisian Republik Indonesia berhasil menangkap 14 pelaku utama penyebar hoaks dan ujaran kebencian.

Beberapa diantaranya ML, RS, Yus, dan RSD. Mereka kerap menyebarkan hoaks lewat dunia maya perantara Whatsapp dan Twitter.

Keempat pelaku ini tergabung dalam grup Whatsapp bernama 'The Family MCA'. MCA dikenal warganet dengan kepanjangan Muslim Cyber Army.

Kelompok ini tidak terorganisir dan tidak berpusat pada satu komando sehingga pihak kepolisian pun agak kesulitan melacak anggota MCA.

Karena sudah banyaknya laporan yang masuk, petugas kepolisian langsung membekuk 4 tersangka di 4 kota yang berbeda di Indonesia.

Yus ditangkap di Bandung, RS ditangkap di Bali, ML dibekuk di Jakarta Utara, sementara RSD ditangkap di kepulauan Bangka Belitung.

Hal ini menunjukan, MCA memiliki anggota hingga puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah.

MCA memiliki beberapa kelompok sejenis yang berbeda-beda, tetapi masih menggunakan MCA dalam nama kelompok.

MCA kerap kali menyebar fitnah di media sosial, mulai dari isu penyerangan ulama, isu kebangkitan PKI, hingga menyebar kebohongan mengenai Presiden Joko Widodo.

Namun, saat ini polisi masih melakukan pencarian terhadap pengurus utama (kepala) MCA yang saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Berawal dari Pilkada DKI Jakarta 2017

Grup MCA sebenarnya telah muncul saat pergelaran Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

Kelompok ini terkenal karena kerap menyebarkan isu tidak benar mengenai Basuki Tjahaja Purnama atau yang dikenal dengan sebutan Ahok.

MCA kerap menggunakan isu agama dalam menyerang lawan-lawan politiknya. Salah satunya dipraktekan saat menjatuhkan Ahok.

Peneliti Departemen Komunikasi dan Informasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Savic Ali mengatakan isu agama adalah isu yang dengan cepat dapat mempengaruhi rakyat Indonesia.

Usai ahok tumbang dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, MCA mengalihkan targetnya ke Presiden Joko Widodo.

Kali ini, isu yang diangkat adalah kebangkitan PKI. Saat pilpres 2014, Jokowi kerap diserang oleh hatersnya dengan isu kebangkitan PKI. Salah satunya oleh Jon Riah Ukur Ginting (Jonru).

Mirip Sarachen

Penangkapan yang dilakukan terhadap kelompoh The Family MCA ini tampak persis dengan penangkapan kelompok penyebar hoaks, Sarachen, Agustus 2017 silam.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Mohammad Iqbal mengakui bahwa secara karakteristik, MCA menyerupai Saracen.

"Ada beberapa karakteristik yang agak mirip, tetapi ini berbeda," ujar Iqbal di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Namun, Iqbal belum memberikan pernyataan dibalik motif kelompok MCA menyebarkan kebencian. Sedangkan Sarachen memiliki motif ekonomi dibalik lahirnya berita-berita fitnah yang dibuatnya.

Para anggota Saracen, Sri Rahayu Ningsih, Muhammad Faisal Tonong, Jasriadi, dan Mohammad Abdullah Harsono, menetapkan tarif sekitar Rp 72 juta dalam proposal yang ditawarkan kepada sejumlah pihak.

Mereka bersedia menyebarkan konten ujaran kebencian dan berbau SARA di media sosial milik mereka sesuai pesanan

Berita Terbaru: Hoaks Mengenai Muadzin yang Dibunuh.

Kelompok MCA baru-baru ini menyebarkan berita hoaks mengenai seorang muadzin yang dibunuh oleh orang dengan gangguan kejiwaan.

TAW (40) ialah anggota MCA yang menyebarluaskan berita hoaks tersebut di Facebook.

TAW menulis, korban yang bernama Bahro (versi TAW) dibunuh oleh orang gila. TAW juga mengkonfirmasi bahwa Bahro merupakan seorang muadzin.

Namun, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan bahwa fakta yang sesungguhnya ialah Bahro bukan seorang muadzin dan tersangka bukan lah orang gila.

Hal tersebut bermula saat pelaku pembunuhan, R (40), S (40), dan JJ (44) mendapatkan informasi bahwa di rumah Bahro terdapat barang berharga.

Setelah ketiga pelaku itu masuk ke dalam rumah Bahro, mereka tidak menemukan barang berharga itu.

Lantas, mereka bertiga pun memaksa Bahro untuk memberitahu perihal keberadaan barang berharga tersebut.

Bahro pun enggan memberikan keterangan sehingga nyawa Bahro pun tak tertolong usai disiksa oleh ketiga pelaku.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved