Susi Susanti Sendirian Mengajar Satu Sekolah, Digaji hanya Rp 200.000, Gesit Meski Hamil 7 Bulan
Meski hanya berukuran 4 X 4 meter, ruang tersebut menampung siswa dari 3 kelas, yaitu kelas 1, kelas 2, dan kelas 3.
Bila beruntung, warga bisa menumpang truk pengangkut kelapa sawit yang lewat sehingga tidak perlu bersusah payah melintasi jalan tanah yang dipastikan berlumpur jika hujan mengguyur.
Untuk menyewa kendaraan juga harus dipastikan kendaraan tersebut berjenis offroad agar bisa sampai di perkampungan yang memiliki 282 kepala keluarga tersebut.
Dari Sei Ular butuh waktu 1 hingga 2 jam sebelum melihat masjid sebagai tanda masuk perkampungan Desa Samaenre Semaja jika cuaca tidak hujan.
Jika hujan bisa dipastikan membutuhkan waktu lebih, mobil dipastikan akan sering tergelincir di sepanjang jalan karena jalan tanah yang berlumpur.
Baca: 13 Perusahaan di Kota Bandung dan KBB, Terbukti Buang Limbah Berbahaya di Sungai
Buruknya infrastruktur jalan membuat puluhan anak-anak di desa tersebut kesulitan bersekolah. Mereka memilih membantu orangtua mereka di rumah.
Kepala Desa Samaenre Semaja, Farida, menyebut rumah warga terjauh letaknya 5 kilometer dari sekolah.
“Usia mereka sudah masuk masa sekolah tapi karena jalan licin dan berlumpur kalau hujan membuat mereka kesulitan ke sekolah,” ujarnya.
SD Filial 004 Seimnggaris adalah satu-satunya harapan para orangtua menyekolahkan anak-anak mereka.
Orangtua siswa, Ambo, mengaku sejak kecil mereka tidak pernah mengenal bangku sekolah karena begitu menginjak usai remaja langsung bekerja di Malaysia sebagai buruh sawit.
Delapan tahun terakhir, Ambo mengaku memilih pulang ke Indonesia dan membuka kebun sawit di desa itu. Dia berharap melalui sekolah SD filial, anaknya bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi nantinya.
“Kalau gurunya tidak ada, saya minta sabar ke anak saya karena itu satu-satunya guru di sini, rumahnya jauh, sedang hamil juga. Harapan saya, anak saya bisa sekolah sampai kuliah nanti,” katanya.
Baca: Komentari Prestasi Sri Mulyani, Fadli Zon Dapat Tanggapan Menohok dari Netizen: Apa Prestasi Bapak?
Sementara, orangtua siswa lain, Rafael, mengaku warga sebetulnya mau saja membantu kekurangan yang dialami pihak sekolah, namun sebagian orangtua siswa takut menyalahi aturan.
Menurutnya, warga sangat berharap atas keberadaan SD Filial tersebut demi masa depan anak mereka, karena sekolah dasar negeri terdekat berada kurang lebih 10 kilometer dari desa mereka.
“Sekolah ini harapan kami satu-satunya agar anak kami bisa pandai. Kami berharap pemerintah bisa menambah guru yang mengajar di sini,” ucapnya.
Meski keterbatasan ruang sekolah, bangku, dan guru, murid Susi kreatif dan mandiri untuk belajar. Nabila, murid kelas 6, misalnya, mampu memelajari bahasa Inggris dengan baik meski tak diajarkan di sekolah.
Berbekal listrik dari diesel milik tetua desa yang disalurkan kepada warga, Nabila mengaku mengunduh materi pelajaran yang tidak bisa diberikan di sekolah.
Listrik di desa itu hanya menyala dari jam 6 sore sampai jam 10 malam.
Murid yang bercita-cita menjadi wanita polisi tersebut beberapa bulan ke depan harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir sekolah.
“Saya juga bingung kalau ibu guru mau cuti melahirkan, bagaimana dengan persipaan kami yang mau ujian?” ujarnya.
Bunyi besi tua yang dipukul dengan batu seadanya menandai berakhirnya kegiatan belajar di SD Filial 004 Seimenggaris hari itu.
Meski tak banyak perabot sekolah yang dimilik, Susi Susanti berusaha merapikan kembali buku-buku pelajaran sekolah ke rak kayu yang mulai usang.
Ada satu kegamangan yang dipikirkan ibu satu anak ini terhadap nasib siswanya. Bagaimana siswanya yang kelas 6 menghadapi ujian jika bulan depan dia harus cuti untuk melahirkan?
Ujian akhir sekolah rencananya akan dilaksanakan antara bulan April atau Mei 2018.
“Masalah ini sudah kami upayakan disampaikan ke kepala sekolah tempat kami menginduk, tapi beliau sakit. Saya juga tidak tahu bagaimana nasib mereka nanti kalau saya cuti melahirkan,” ujarnya.
Meski dihadapkan dengan berbagi kekurangan, Susi Susanti mengaku akan tetap mengajar siswa-siswi tunas bangsa yang berada di wilayah perbatasan tersebut usai cuti melahirkan. ]
Dia mengaku, akan secepatnya mengajar bila anak keduanya nanti telah lahir dan bisa dibawa serta menuju sekolah.
“Secepatnya saya akan mengajar meskipun mungkin usia bayi saya nanti 5 bulan, yang penting bisa saya ajak pergi mengajar. Anak saya yang pertama juga usia 5 bulan sudah saya ajak mengajar,” ucapnya. (*)
Berita ini tayang di Kompas.com berjudul Kisah Susi, Honor Rp 200.000 Mengajar 6 Kelas Anak-anak Perbatasan Seorang Diri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/susi-susanti_20180212_190559.jpg)