Susi Susanti Sendirian Mengajar Satu Sekolah, Digaji hanya Rp 200.000, Gesit Meski Hamil 7 Bulan
Meski hanya berukuran 4 X 4 meter, ruang tersebut menampung siswa dari 3 kelas, yaitu kelas 1, kelas 2, dan kelas 3.
Satu di antara rekan guru Susi Susanti, Rustam, mengaku bukan berhenti mengajar tapi memilih rehat sementara sampai pemerintah daerah bisa menggaji mereka.
Selama mengajar sejak tahun 2013, dia mengaku tak mendapat gaji seperti yang dijanjikan dengan alasan anggaran belum turun.
Dia akhirnya memilih bertanam sayur untuk menghidupi keluarga yang diboyong dari Pulau Sulawesi.
“Janjinya mau digaji Rp 200.000 per bulan tapi sampai sekarang tidak ada. Kalau pemerintah sudah memerhatikan, saya fokus di sini. Sementara kami cari kerja lain,” ucapnya.
Susi Susanti memilih bertahan mengajar karena satu-satunya guru yang tertinggal hanya dirinya. Susi mengaku mendapat honor Rp 200.000 per bulan yang diberikan tidak ada ketentuan waktunya.
Tahun 2017 lalu dia mengaku honor diberikan secara rapel 2 kali pembayaran dalam setahun.
Honor Rp 200.000 menurutnya tidak cukup untuk mengganti biaya bensin motor pulang pergi ke sekolah karena jarak rumahnya lebih dari 3 kolometer dari sekolah.
“Biaya bensin sebulan pulang-balik 20 liter sudah Rp 250.000, ” ucapnya.
Jalan tanah berlumpur
Untuk menuju Desa Samaenre Semaja dibutuhkan waktu lebih dari 3 jam dari ibu kota Kabupaten Nunukan.
Dari Pelabuhan Pos Lintas Batas Laut Liem Hie Djung, warga harus menggunakan moda transportasi speedboat menuju Dermaga Sei Ular yang akan melewati 2 pos penjagaan wilayah perbatasan.
Pos pertama merupakan pos milik aparat Pemerintah Malaysia di Tanjung Kayu Mati. Pos kedua yang akan dilewati adalah pos Satuan Tugas Pengamanan Wilayah Perbatasan Satgsa Pamtas RI–Malaysia Sei Kaca.
Dari PLBL Liem Hie Djung dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit menuju Sei Ular. Dari Dermaga Sei Ular, perjalanan dilanjutkan memakai mobil carteran karena tak ada angkot regular ke Desa Samaenre Semaja.
Mourinho Perpanjang Rekor Buruk di Kandang Newcastle https://t.co/eVruD5OLu1 via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) February 12, 2018
Jika tidak mencarter, warga biasanya berjalan kaki dari jalan aspal terakhir menuju perkampungan mereka yang berjarak kurang lebih 5 kilometer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/susi-susanti_20180212_190559.jpg)