Dinilai Terlalu Administratif, Begini Saran Dedi Mulyadi Agar Kualitas Pelayanan ASN Meningkat
Menurutnya, kunci sukses mengelola birokrasi itu harus dikaitkan juga terhadap logika dan hati, bukan hanya secara administrasi saja.
Penulis: Haryanto | Editor: Jannisha Rosmana Dewi
Menurutnya, pegawai yang menjadi pengabdi negara itu tidak lagi berdasarkan seleksi komputerisasi dan administratif.
Namun, perekrutan CPNS juga harus melihat faktor keahlian dan kemampuan yang menjadi faktor utama yang menentukan pengangkatan PNS.
Hal tersebut akan membuat para pekerja lebih produktif, tidak melulu menunggu antrean berdasarkan aturan administrasi.
"Nalar kebutuhan PNS itu seharusnya diarahkan kepada nalar produktif, bukan konsumtif. Tenaga PNS yang administratif, cenderung mengarah ke konsumtif, kurang produktif," katanya.
Pencarian PNS juga harus berdasarkan kemampuan dan pengalaman.
Jika masih saja menggunakan sistem komputer dan akademis, orang yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun akan kalah.
Karena orang berpengalaman usianya sudah tua, kemampuan akademik dan kemampuan menguasai komputernya berkurang.
Jika ini tidak dilakukan, menurut Dedi Mulyadi, antrean PTT, Honorer dan Tenaga Harian Lepas akan terus bertambah.
Sementara, pegawai yang sudah ada, kalah bersaing dengan pegawai baru yang datang.
“Angkat sesuai dengan keahlian. Tidak boleh pegawai yang sudah lama mengabdi, kalah dengan pegawai yang baru masuk,” sebutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/bupati-purwakarta-dedi-mulyadi-saat-acara-pembinaan-ptt-dan-honorer-di-bale-maya-datar_20180125_194303.jpg)