Sejarah Bandung
Mau Tahu Asal Mula Sebutan Jalan Dago? Nih Penjelasannya
Trotoar Jalan Dago juga dilengkapi meja dan kursi yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk bersantai atau kongkow.
Penulis: Rezeqi Hardam Saputro | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Rezeqi Hardam Saputro
TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Siapa yang tak kenal Jalan Dago di Kota Bandung yang kini telah berganti nama menjadi Jalan Ir H Djuanda. Setiap hari kawasan ini selalu ramai dikunjungi warga Kota Bandung maupun wisatawan dari luar Kota Bandung.
Pantauan Tribun Jabar, Senin (21/8/2017) siang, di sepanjang Jalan Dago terdapat puluhan toko.
Selain toko, di sepanjang jalan ini juga terdapat puluhan cafe, restoran, swalayan, hotel, dan beberapa perkantoran semisal Bank, Money Changer, hingga lembaga pendidikan.
Di kiri dan kanan Jalan Dago terdapat trotoar yang di beberapa bagian ditanami pepohonan. Di trotoar itu pula berderet pohon yang besar dan tinggi menjulang sehingga Jalan Dago ini terasa teduh.
Baca: 5 Fakta Menarik usai Pesta Gol yang Terjadi di Pertandingan Persib vs Persegres
Trotoar Jalan Dago juga dilengkapi meja dan kursi yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk bersantai atau kongkow.
Meski sudah sangat populer, banyak orang yang tidak tahu asal mula jalan tersebut di beri nama dago.
Kakek 83 Tahun Ini Menabung Uang Receh dari Hasil Parkir, Lalu Belikan Ponsel untuk Cucunya https://t.co/dETqfV3Ymi via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) August 21, 2017
Andi, warga Bandung yang sedang berada di kawasan Jalan Dago berpendapat, dago berasal dari Bahasa Sunda yang memiliki arti "Tunggu".
"Dago teh mungkin diambil dari Bahasa Sunda yang artinya nunggu," ujar Andi sambil tertawa.
Ternyata jawaban Andi ini dibenarkan oleh penulis buku "Bandung Tempoe Doeloe", Ir Haryanto Kunto.
Pada buku tersebut, Ir Haryanto Kunto menceritakan asal muasal pemberian nama Jalan Dago.
Ir Haryanto Kunto menceritakan dulu warga Bandung usai menunaikan salat subuh memiliki kebiasaan untuk pergi ke pasar.
Karena penerangan yang kurang, tulis Ir Haryanto Kunto, daerah dago dan sekitarnya begitu gelap gulita dan banyak warga yang ketakutan akan adanya ancaman semisal rampok atau serangan binatang buas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dago_20170821_165708.jpg)