Fenomena FOMO dan Healing Irit: Wisatawan di Lembang dan Bandung Kini Lebih Berhitung
Pengusaha mengungkapkan adanya penurunan daya beli dan perubahan perilaku wisatawan di Lembang pada 2026.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- Pengusaha mengungkapkan adanya penurunan daya beli dan perubahan perilaku wisatawan di Lembang pada 2026.
- Meski tetap ramai, pengunjung kini lebih berhitung, memangkas durasi kunjungan menjadi satu jam, dan sekadar berfoto tanpa banyak berbelanja.
- Selain faktor ekonomi, tantangan industri diperberat oleh menjamurnya tempat wisata kecil yang viral akibat fenomena FOMO di media sosial.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meski kawasan wisata di Bandung dan Lembang masih ramai dikunjungi saat musim liburan, pelaku industri pariwisata mulai merasakan perubahan perilaku wisatawan.
Jika sebelumnya pengunjung datang untuk berwisata sekaligus berbelanja dan menghabiskan waktu lebih lama, kini mereka cenderung lebih berhitung dalam mengeluarkan uang.
Kondisi tersebut diungkapkan Public Relation PT Perisai Group, Intania Setiati. Perusahaan tersebut menaungi sejumlah destinasi wisata populer di Lembang seperti Farm House, The Great Asia Africa, dan Floating Market.
Menurut Intania, setiap musim libur memang selalu membawa peningkatan jumlah kunjungan dibandingkan hari biasa. Namun jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, daya beli wisatawan saat ini mengalami penurunan.
Ia bahkan menyebut masa terbaik industri wisata justru terjadi pada 2023, ketika masyarakat mulai bebas bepergian setelah pandemi Covid-19.
“Kalau dilihat, sebenarnya yang paling bagus itu setelah Covid, yaitu tahun 2023. Waktu itu orang-orang sudah lama menahan diri untuk tidak bepergian, sehingga ketika sudah diperbolehkan wisata, mereka langsung ramai-ramai jalan-jalan,” ujar Intan saat ditemui di Sekertariat Apindo, Jalan Merdeka, Selasa (2/6/2026).
Saat itu, wisatawan memadati berbagai destinasi wisata, baik saat musim libur maupun hari biasa. Pelaku usaha pariwisata pun optimistis tren tersebut akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Namun kenyataannya berbeda, memasuki 2024, kunjungan mulai melambat. Saat itu, pelaku industri wisata menganggap kondisi tersebut dipengaruhi tahun politik dan penyelenggaraan pemilu. Harapan agar sektor wisata kembali pulih pada 2025 pun tidak sepenuhnya terwujud.
Menurut Intania, penurunan justru berlanjut hingga 2026 seiring kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Kita pikir setelah 2023 akan semakin baik, ternyata malah turun. Tahun 2024 turun, 2025 turun lagi, dan 2026 juga belum membaik seperti yang diharapkan,” katanya.
Meski demikian, ia menilai masyarakat tetap membutuhkan wisata sebagai sarana rekreasi dan pelepas stres. Hanya saja, mereka kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
Perubahan tersebut terlihat dari pola kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya pengunjung bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga jam di satu lokasi wisata, kini rata-rata hanya sekitar satu jam.
Mereka lebih banyak berjalan-jalan dan berfoto tanpa terlalu banyak berbelanja.
“Orang tetap butuh healing, tetap butuh jalan-jalan. Tapi sekarang mereka lebih berhitung. Jadi datang tetap datang, hanya belanjanya lebih sedikit dibandingkan dulu,” ujar Intania.
| Kasus Dugaan Korupsi Erwin dan Rendiana Awangga Masih Berjalan, Penyidik Diminta Lengkapi Alat Bukti |
|
|---|
| Kriminalitas Terjadi Tiap Pekan di Kota bandung, Pemkot dan Polisi Bentuk Satuan Anti Begal |
|
|---|
| Siasat Pemilik Warteg di Bandung Hadapi Biaya Operasional: Ada yang Naik Harga atau Pangkas Porsi |
|
|---|
| Pemprov Jabar Segera Bangun Sekolah Baru di Arcamanik Bandung, Dedi Mulyadi Lobi Pengangkatan Guru |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Minta Panitia Tau Tau Festival Tanggung Jawab atas Hilangnya 7 Motor Pengunjung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Wisatawan-memadati-Jalan-Bragaeeqas.jpg)