Jumat, 29 Mei 2026

Reforestasi Gunung Puntang

Namanya Sri, Dia Bakal Tumbuh Menjadi Dewi Alam

HAMPIR seribuan orang mendaki Gunung Puntang untuk menanam pohon-pohon endemik di sepanjang jalur pendakian. Setiap pohon yang ditanam, disertai doa.

Tayang:
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
Tribun Jabar
Setiap pohon yang ditanam pada acara reforestasi Gunung Puntang yang digelar paguyuban petani kopi Sunda Hejo, Kamis (22/12/2016) disertai doa. Seperti yang ditulis Boby Rivaldi, salah seorang peserta asal Yogyakarta. 

Cupping kali ini menarik karena dirancang sedemikian rupa agar bisa diikuti semua peserta, termasuk oleh mereka yang awam tentang kopi. Tujuannya agar para peserta paling tidak dapat mengenali mana kopi yang baik yang diolah dari buah kopi yang sudah matang, dan mana kopi yang tidak baik yang diolah dari buah kopi yang masih hijau atau bahkan dari buah kopi yang sudah busuk.

CUPPING
CUPPING - Ratusan peserta reforestasi Gunung Puntang mengikuti sesi uji cita rasa kopi di bumi perkemahan Gunung Puntang, Kamis (22/12/2016)

Setiap peserta mendapatkan tiga gelas, yang masing-masing berisi tiga kopi berbeda, yakni kopi dari buah yang masih muda, kopi dari buah yang sudah matang, dan dari buah yang sudah busuk. Setelah menyesap dan menyeruput masing-masing gelas, setiap peserta diminta memilih mana kopi yang enak dan menuliskannya di kertas yang disediakan.

Baru setelah semua pilihan selesai ditulis, peserta diberitahu tentang kopi yang mereka pilih. Kopi paling enak yang mayoritas dipilih adalah kopi yang diolah dari buah kopi yang sudah matang.

Bagi para petani, cupping seperti ini juga penting untuk kembali meyakinkan mereka tentang pentingnya untuk hanya memetik buah kopi yang matang saat masa panen tiba. Bukan saja karena ukuran kopi yang matang lebih besar dan berat, tapi karena cita rasa yang dihasilkan dari kopi yang matang adalah cita rasa terbaik. Dengan menjaga hal itu, maka secara tak langsung, mereka ikut memastikan bahwa-kopi-kopinya akan diterima pasar dengan harga yang tinggi.

Selepas acara cupping, para peserta juga dihibur dengan atraksi bambu gila. Acara ditutup dengan makan nasi liwet bersama, diiringi alunan kecapi, yang sungguh menjadi acara penutup tahun yang sulit dilupakan.

Catatan kecil lainnya, acara ini tak sedikit pun menyisakan sampah, apalagi sampah plastik. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved