Reforestasi Gunung Puntang
Namanya Sri, Dia Bakal Tumbuh Menjadi Dewi Alam
HAMPIR seribuan orang mendaki Gunung Puntang untuk menanam pohon-pohon endemik di sepanjang jalur pendakian. Setiap pohon yang ditanam, disertai doa.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
Laporan Arief Permadi
DI PINGGIR pohon endemik yang baru saja ditanamnya, peserta yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta itu menancapkan patok berisi plang dari karton putih yang telah ia tulisi doa. "Namanya Sri, dia bakal tumbuh menjadi Dewi Alam."
HARI masih pagi saat ratusan orang mulai mendaki, menapaki jalan setapak di Gunung Puntang di Desa Campaka Mulya, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Kamis (22/12). Sambil membawa bibit pohon- pohon, langkah mereka perlahan. Jalan menanjak memaksa mereka berkali-kali berhenti dan mengatur napas.
Sebagian memilih tempat yang tidak terlalu tinggi untuk menanam. Tak perlu menggali karena lubang-lubang untuk menanam sebelumnya sudah dipersiapkan panitia. Ibu-ibu yang kebanyakan memilih menanam di titik lubang yang tak terlalu tinggi ini. Mereka yang masih muda rata-rata sampai ke atas.
"Ibu mah sampai sini saja. Lumayan, bisa nanam empat pohon juga," kata seorang peserta, disambut tawa teman-temannya.

Sejumlah barista dari berbagai kota di Indonesia ikut menanam pohon endemik pada reforestasi Gunung Puntang, Kamis (22/12/2016)
Selain diikuti ratusan petani yang selama ini tinggal di kawasan Gunung Puntang, acara reboisasi yang rutin digelar para petani kopi yang tergabung dalam paguyuban Sunda Hejo kali ini juga diikuti ratusan warga yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, bahkan luar Jawa. Agar tak terlambat ikut menanam, sebagian dari mereka bahkan rela mendirikan tenda di bumi perkemahan yang jaraknya tak begitu jauh dari lokasi penanaman.

Dua petani kopi mengajak serta anak mereka menanam pohon endemik pada kegiatan reforestasi Gunung Puntang, Kamis (22/12/2016)
Eko Purnomowidi (48), ahli kopi yang selama ini ikut membina para petani di paguyuban Sunda Hejo, mengatakan ada lebih dari 2.000 pohon yang berhasil mereka tanam hari itu.
"Total ada 10 ribuan pohon yang kami tanam di lokasi ini sepanjang tahun, mulai dari rasamala, surian, kibeureum, kihujan, manglid, albasia, apukat, duren, nangka, dan lain-lain. Semuanya tercatat. Kita bisa melihat perkembangannya setiap tahun," ujarnya di sela-sela acara penanaman.
Bagi para petani kopi, kata Eko, keberadaan hutan ini sangatlah penting karena pohon kopi hanya bisa berkembang dengan baik di bawah naungan pohon pelindung. Tapi, hutan yang hijau dan lestari tentu tak hanya bermanfaat bagi para petani kopi. "Alam akan menjaga kita jika kita mau selalu menjaganya," ujar Eko.

Sejumlah peserta reforestasi Gunung Puntang yang digelar paguyuban petani kopi Sunda Hejo beristirahat usai melakukan penanaman pohon-pohon endemik, Kamis (22/12/2016)
Aki Dadi (60), petani kopi asal Tenjolaya, mengatakan hal senada. Bagi para petani, kata Aki Dadi, reboisasi adalah wujud rasa bersyukur. Bentuk mulang tarima (terima kasih) kepada alam yang selama ini "memberi" mereka kehidupan.
"Sejak kami kembali giat menanami lagi lahan hutan yang gundul, kami tak pernah lagi kesulitan air bersih. Pohon-pohon kopi berbuah dan hasil panen melimpah. Air mengalir sepanjang tahun," kata Aki Dadi.
Kegembiraan penanaman pohon-pohon juga dirasakan sejumlah murid SMKN 3 Baleendah yang hari itu berhasil menanam tak kurang dari 20-an pohon.
"Tadi saya menanam albasia dan kihujan," kata Ahmad Mauladi (17). Dua rekannya, Silvi Srimulyani (18) dan Yunita (18), tak mau kalah. "Kami tanam manglid dan pohon kihujan," ujar Silvi, yang disambut anggukan kepala Yunita.
Seperti para peserta yang lain, mereka pun menuliskan doa dan harapannya di patok karton yang mereka bawa sebagai penanda. "Mudah-mudahan mereka cepat tumbuh. Jangan ditebang," kata Silvi.
Cupping
Selain penanaman pohon, kegembiraan Kamis lalu di Puntang juga diisi acara cupping (uji cita rasa) kopi yang diikuti hampir semua peserta di lapangan bumi perkemahan.
Cupping kali ini menarik karena dirancang sedemikian rupa agar bisa diikuti semua peserta, termasuk oleh mereka yang awam tentang kopi. Tujuannya agar para peserta paling tidak dapat mengenali mana kopi yang baik yang diolah dari buah kopi yang sudah matang, dan mana kopi yang tidak baik yang diolah dari buah kopi yang masih hijau atau bahkan dari buah kopi yang sudah busuk.

CUPPING - Ratusan peserta reforestasi Gunung Puntang mengikuti sesi uji cita rasa kopi di bumi perkemahan Gunung Puntang, Kamis (22/12/2016)
Setiap peserta mendapatkan tiga gelas, yang masing-masing berisi tiga kopi berbeda, yakni kopi dari buah yang masih muda, kopi dari buah yang sudah matang, dan dari buah yang sudah busuk. Setelah menyesap dan menyeruput masing-masing gelas, setiap peserta diminta memilih mana kopi yang enak dan menuliskannya di kertas yang disediakan.
Baru setelah semua pilihan selesai ditulis, peserta diberitahu tentang kopi yang mereka pilih. Kopi paling enak yang mayoritas dipilih adalah kopi yang diolah dari buah kopi yang sudah matang.
Bagi para petani, cupping seperti ini juga penting untuk kembali meyakinkan mereka tentang pentingnya untuk hanya memetik buah kopi yang matang saat masa panen tiba. Bukan saja karena ukuran kopi yang matang lebih besar dan berat, tapi karena cita rasa yang dihasilkan dari kopi yang matang adalah cita rasa terbaik. Dengan menjaga hal itu, maka secara tak langsung, mereka ikut memastikan bahwa-kopi-kopinya akan diterima pasar dengan harga yang tinggi.
Selepas acara cupping, para peserta juga dihibur dengan atraksi bambu gila. Acara ditutup dengan makan nasi liwet bersama, diiringi alunan kecapi, yang sungguh menjadi acara penutup tahun yang sulit dilupakan.
Catatan kecil lainnya, acara ini tak sedikit pun menyisakan sampah, apalagi sampah plastik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/doa_20161225_153923.jpg)