Sorot

Logical Fallacy

MANA yang lebih berbahaya, ujaran kebencian atau logical fallacy? Jika pertanyaan itu dilontarkan sekarang, tanpa . . .

Logical Fallacy
DOK. TRIBUN JABAR
Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar 

Oleh: Arief Permadi, Wartawan Tribun Jabar

MANA yang lebih berbahaya, ujaran kebencian atau logical fallacy? Jika pertanyaan itu dilontarkan sekarang, tanpa keragu-raguan saya akan memilih yang kedua.

Pertama, karena dampaknya yang luar biasa. Kedua, karena belum ada hukum yang bisa efektif menjerat para pelakunya.

Dalam pengertian yang paling sederhana, logical fallacy bisa diterjemahkan sebagai kekeliruan dalam penalaran. Umumnya kekeliruan ini terjadi tanpa sengaja karena keterbatasan daya nalar pelaku. Tapi sering pula justru dipergunakan secara sengaja untuk untuk maksud- maksud tertentu yang tentu saja menguntungkan para pelaku.

Kekeliruan-kekeliruan logika yang disengaja ini belakangan berseliweran memenuhi ruang- ruang publik di media sosial. Pelakunya beragam begitu pula motif dan tujuannya.

"Pegiat" logical fallacy, katakanlah begitu, bekerja dengan memanfaatkan kelemahan- kelemahan publik yang cenderung permisif, menerima begitu saja beragam informasi sebagai kebenaran atau bentuk ketaatan tanpa melakukan ricek. Celakanya di media sosial, logical fallacy bisa dengan mudah beranak-pinak. Orang-orang menyebarkan kembali informasi yang mereka terima tanpa pikir panjang.

Asal copy asal paste, dan share! Kesesatan menyebar menjadi viral, dan tanpa sadar kemudian dianggap sebagai kebenaran.
Sifatnya yang persuasif memang membuat para korban pegiat logical fallacy cenderung tak menyadari bahwa pola berpikir mereka telah disesatkan. Mereka bahkan tak menyadari ketika hati mereka mulai ditumbuhi kebencian. Ini menjadi laten, dan tentu saja sangat berbahaya.

Penyebaran informasi-informasi keliru dengan cara memberi penalaran-penalaran yang sesat ini kian meresahkan karena media sosial tak seperti media-media konvensional yang penggunanya hanya lapisan-lapisan tertentu. Peluru yang ditembakkan dengan menggunakan media sosial bisa menembus nyaris semua lapisan. Dan, semakin parah karena penggunanya bukan saja mereka yang sudah punya cukup bekal untuk melakukan penyaringan, tapi juga remaja tanggung bahkan anak-anak yang masih polos yang menganggap apapun yang ramai dibicarakan adalah kebenaran. Sementara, belakangan, penyebaran informasi dengan pola penalaran yang disesatkan ini juga sudah mulai dipergunakan pada isu-isu SARA.

Seperti yang kita tahu, isu-isu seperti ini ibarat mesiu. Sedikit saja terpicu, ledakannya bisa mematikan.
Dengan masih sulitnya menjerat para pegiat logical fallacy ini secara hukum, para orang tua, guru, dan pemuka agama, menjadi satu-satunya harapan. Sebab, sekalipun gelombang informasi ini tak bisa dibendung, pendidikan yang baik akan mengurangi dampaknya. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di Koran Tribun Jabar, edisi Rabu (14/12/2016).

Penulis: Arief Permadi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved