Jadilah Selebritas

KATA-kata pejuang atau berjuang, belakangan sering terdengar. Entah itu dalam kapasitas berjuang yang sesungguhnya demi kelompok, keluarga, anak

Jadilah Selebritas
TRIBUNNEWS / FX ISMANTO
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun 

KATA-kata pejuang atau berjuang, belakangan sering terdengar. Entah itu dalam kapasitas berjuang yang sesungguhnya demi kelompok, keluarga, anak, atau istri. Atau berjuang hanyalah sebatas ajakan seseorang kepada orang lain agar sama-sama bersemangat menjalani kehidupan. Kebanyakan orang cenderung melakukan apa yang ia senangi dan tidak melakukan apa yang tidak disenangi.

Sementara kaum selebritas seringkali sengaja tidak melakukan hal-hal yang ia senangi, dan justru melakukan apa-apa yang tidak ia senangi - dalam batas bahwa itu semua tidak melanggar syariat agama dan hukum negara.
Para selebritas ini sengaja melatih mental untuk setiap saat siap mengerjakan suatu perjuangan sosial, meskipun secara pribadi ia tak menyukainya. Atau sewaktu-waktu ia meninggalkan kesenangan pribadi untuk kepentingan yang lebih luas. Nah, yang seperti inilah yang dinamakan mental dan kepribadian pejuang.

Kaum selebritas itu mewah, ilmiah, elite, pokoknya berbeda dengan kebanyakan orang, termasuk dalam soal makan. Tahukah Anda, di balik perilaku kaum selebritas itu tersirat makna yang jauh dari apa yang kita bayangkan. Begini. Kebanyakan orang pergi makan kapan ia ingin makan. Bila diperhatikan dengan saksama, selebritas hanya makan kalau hampir tiba di titik ambang kelaparan. Sebab kalau ia membiarkan diri kelaparan, berarti ia melanggar amanat Tuhan untuk merawat kesehatan badan. Kebanyakan orang makan sekenyang-kenyangnya. Sedangkan selebritas berhenti makan sebelum menyentuh keadaan kenyang, sebab pada batas itulah terletak optimalitas kesehatan dan kecerahan kreativitas hidup.

Kebanyakan orang memilih makanan yang disukainya. Sedangkan selebritas mengambil makanan yang menyehatkan jasmani rohani. Kebanyakan orang menghindarkan diri dari makanan yang tak disukainya. Sedangkan selebritas siap mengunyah dan menelan apa saja, meskipun pahit, masam, amis, dan tak disukainya - dengan syarat bahwa itu adalah kebaikan sosial yang wajib dikerjakan.

Kaum selebritas mampu melakukan tidur yang kebanyakan orang tak sanggup. Kalau bisanya hanya tidur di kasur, itu berarti orang awam. Kalau bisa tidur di emperan toko atau di tanah basah, lembap dan bau, baru selebritas namanya. Selebritas disebut manusia spesifik karena sanggup tidur meskipun dalam posisi berdiri dan tidak bersandar. Termasuk lamanya tidur. Kebanyakan orang tidur antara 6 sampai dengan 8 jam sehari. Selebritas sanggup tidur sekitar 2-3 jam sehari. Kalau diperlukan tiga hari tiga malam tidak tidur.

Terakhir, mengutip ilmu orang tua yang maknanya adalah pengetahuan akal dan kesadaran batin bahwa ia akan mati. Itu bisa berlaku tidak 30 tahun yang akan datang, melainkan bisa juga besok pagi-pagi menjelang seseorang masuk kantor. Orang tua yang berpikir efisien tidak menghabiskan tenaga dan waktunya untuk kesementaraan, melainkan untuk keabadian. Tidak menumpahkan profesionalisme untuk menggapai sesuatu yang tidak akan menyertainya selama-lamanya.

Ilmu orang tua itu adalah kesanggupan memilih satu-dua yang abadi di antara seribu dua ribu yang temporer. Memilih satu-dua yang sejati di tengah seribu dua ribu hal, barang, pekerjaan, target yang palsu. Manusia yang paling profesional adalah yang memiliki akar pengetahuan dan daya terapan untuk bersegera menggunakan ilmu orang tua tanpa menunggu usianya menjadi tua. Pasalnya, saat ini tak sedikit orang yang bertele-tele hidupnya dengan terus menerus membiarkan pikiran dan hatinya dihuni rasa dengki, dipenuhi fitnah tentang ini dan kepada itu. Baik yang diungkapkan, diterapkan, maupun yang dibiarkan terpelihara di dalam dirinya sampai hari tua. (*)

Penulis: Dicky Fadiar Djuhud
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved