Sorot

Masih Pelajar Kok Berani Membacok

Kemarin, pihak kepolisian menunjukkan celurit yang digunakan kedua pelajar untuk menganiaya. Polisi juga menunjukkan . . .

Masih Pelajar Kok Berani Membacok
dok pribadi
Redaktur Tribun Jabar Kisdiantoro 

Oleh: Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

DI tengah renyahnya obrolan politik tanah air menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2017 dan kasus dugaan penistaan agama oleh pertahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dunia pendidikan di Kabupaten Purwakarta ikut jadi bahan obrolan yang tak kalah seru.

Dua pelajar SMK ditangkap Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Purwakarta karena diduga menjadi pelaku penganiayaan terhadap dua pelajar lainnya.

Kemarin, pihak kepolisian menunjukkan celurit yang digunakan kedua pelajar untuk menganiaya. Polisi juga menunjukkan seragam yang penuh dengan lumuran darah. Diceritakan, korban penganiayaan itu mengalami luka bacokan di bagian perut dan kepala.

Kedua pelajar yang diamankan polisi itu kemudian mendapat penanganan khusus oleh Unit Perlindungan Perempun dan Anak (PPA) Polres Purwakarta. Termasuk penanganan khusus dalam penahanan untuk keperluan penyelidikan dan penyidikan. Mereka pun dijerat pasal Pasal 80 ayat 2 Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Berapa tahun acaman hukumannya? Pelaku penganiayaan anak hinga mengakibatkan luka berat diancam hukumam penjara paling lama lima tahun atau denda seratus juta rupiah.

Mengapa pelajar yang saban hari didik dengan harapan menjadi manusia yang beradab, malah berindak kriminal, dan hampir mengakhiri hidup orang lain?

Ada banyak faktor mengapa anak-anak bertindak melampuai batas. Kondisi kehidupan di keluarga bisa menjadi latarnya. Keluarga yang tak memberikan cukup kasih sayang, anak- anak sangat rentan tumbuh menjadi pribadi yang salah. Bahkan di banyak penelitian, para narapidana mengakui bahwa perilaku jahatnya, muncul karena sewaktu kecil tumbuh di keluarga yang tidak harmonis dan selalu menunjukkan keributan. Bisa dipahami karena keluarga adalah bagian paling dekat dengan anak-anak yang setiap adegannya bakal dilihat oleh anak-anak. Sementara anak belum memiliki filter yang baik untuk menyeleksi mana yang baik dan buruk.

Orangtua di zaman modern yang disibukkan dengan banyak urusan, terkadang lebih banyak mempercayakan hari-hari anaknya pada lembaga pendidikan. Padahal, sekolah tak memiliki kontrol yang kuat setelah anak-anak di luar sekolah, apa yang dilakukan, dengan siapa dia bergaul, sekolah tak selalu tahu. Bukankah sekolah ada pelajaran agama yang akan membentuk anak menjadi pribadi yang saleh?

Dua jam pelajaran agama di sekolah tak cukup mampu membendung pengaruh negatif pada anak yang kecepatannya bisa jadi melebihi kecepatan laju motor Valentino Rossi saat membalap di lintasan. Gadget yang mencengkeram ribuan informasi, yang baik dan buruk, ada dalam genggaman anak-anak. Siap yang mengontrolnya?

Lingkungan tempat anak-anak bergaul juga memiliki peran penting dalam pekembangan perilakunya. Jika anak-anak mulai terbiasa nongkrong di gang atau di tempat-tempat keramaian tanpa tujuan yang baik, dan tak ada teguran dari orangtua atau orang-orang di sekitarnya, maka anak menganggap hal tersebut menjadi suatu yang biasa atau dibolehkan. Kalau anak terbiasa pulang ke rumah larut malam, tanpa ada yang menegur, maka anak akan menganggap hal itu sebagai suatu yang wajar.

Lalu bagaimana? Teladan yang baik adalah solusianya. Orangtua mencurahkan kasih sayang, membangun komunikasi yang baik, dan menunjukkan pada anak-anak tentang tanggungjawab. Guru dan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya menyokong dengan menciptakan lingkungan yang ramah anak, dengan perkataan yang menyejukkan dan membangun optimisme. Para tokoh yang wara wiri ngomong di televisi juga semestinya menjaga lisannya dari perkataan kasar dan bohong. Keluarga dan lingkungan yang kondusif sangat dibutuhkan anak-anak. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di Koran Tribun Jabar edisi Selasa (22/11/2016).

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved