SOROT

Situ Aksan

Situ yang oleh orang Belanda dulu disebut Westerpark, keindahannya hanya bisa dinikmati hingga 1970-an.

Situ Aksan
TRIBUN JABAR
Januar P Hamel, Wartawan Tribun. 

Oleh Januar P Hamel
Wartawan Tribun

SITU Aksan bukan hanya sekadar nama jalan di Sukahaji, Babakan Ciparay, Kota Bandung. Situ atau danau dalam Bahasa Indonesia ini, dahulu kala memang benar ada. Bagi yang lahir pada 1990-an sudah pasti tidak bisa merasakan keberadaan situ yang katanya pemandangannya sangat indah itu.

Beberapa blog menyebutkan, pada zaman Belanda situ itu merupakan tempat wisata favorit. Di tengahnya ada sebuah pulau yang bisa dijangkau menggunakan perahu. Dikisahkan dalam blog itu suasana di situ itu sangat indah, teduh, dan hijau. Kalau sekarang mungkin cocok untuk ber-selfie atau berswafoto seperti di tempat-tempat wisata terbaru yang bermunculan.

Situ yang oleh orang Belanda dulu disebut Westerpark, keindahannya hanya bisa dinikmati hingga 1970-an. Pembangunan permukiman telah mengubah situ indah itu menjadai daratan. Pada 1980-an sisanya masih bisa terlihat berupa kolam kecil. Pada 1990-an hanya tinggal nama. Dan, pada 2000-an orang sekitar sana tak bisa menunjukkan bekas situ itu di mana.

T Bachtiar dalam bukunya "Bandung Purba, Panduan Wisata Bumi", menyebut dataran kota ini dulunya sebuah danau yang sangat luas. Ketika danau itu mulai surat di dataran menyisakan lahan basah yang selalu berair. Menurutnya dari catatan perjalanannya berasama Dewi Syafriani, Bachtiar menyebut di Bandung ada 18 tempat yang namanya menggunakan nama situ, satu di antaranya adalah Situ Aksan.

Ketika Jalan Pagarsih diamuk banjir, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pernah mengutarakan niatnya untuk membuat danau retensi di kawasan tersebut. Ridwan Kamil memilih areal yang berada di atas jalan tersebut. Danau retensi itu untuk menghambat arus air langsung masuk ke Sungai Citepus.

Danau tersebut jika jadi dibangun luasnya sekitar 3.000 meter per segi. Menurut Ridwan Kamil pembangunan danau itu merupakan solusi jangka panjang yang akan segera direalisasikan. Dalam media online Ridwan menyebut danau tersebut akan selesai dibangun pada Januari 2017.

Banjir luapan Sungai Citepus kembali menerjang kawasan Jalan Pagarsih, Jalan Sudirman, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Rabu (9/11). Kemarin banjir pun merendam kawasan ini. Itu adalah banjir yang kesekian kalinya.
Banjir pada Rabu itu menyebabkan Avanza dan Kijang terseret beberapa meter. Mobil Kijang merah berhasil diselamatkan warga, sementara mobil Avanza terus terseret air banjir.

Warga kawasan itu pun mengaku kesal karena banjir tersebut. Cepi Setiawan, Ketua RW 02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, mengatakan akan melakukan semacam gugatan kepada yang memberi izin pengembang di Kawasan Bandung Utara. "Bandung kan cekungan, jadi kami yang terkena imbasnya," kata Cepi seperti dikutip Tribun.
Banyak pembaca Tribun yang mengirim pendapat dan kritik ke redaksi mengenai banjir tersebut. Satu di antaranya dimuat pada edisi Sabtu (11/11) di halaman Tribun Forum. Isinya seperti ini, "Banjir kembali melanda Jl Pagarsih. Andaikan danau Situ Aksan masih ada, mungkin musibah banjir tidak akan terjadi. Dahulu Situ Aksan menjadi penampung air bagi wilayah di sekitarnya saat musim hujan seperti kawasan Pasirkoja, Holis maupun Pagarsih."

Benarkah? Pendapat dari nomor telepon 081910429xxx ini harus diuji kebenarannya. (*)

Penulis: Januar Pribadi Hamel
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved