SOROT

Belajar dari Alam

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun sempat bingung menyaksikan banjir yang terjadi di Jalan Pagarsih

Belajar dari Alam
TRIBUN JABAR
Tatang Suherman, Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Jabar. 

Oleh Wartawan Tribun
Tatang Suherman

Hari Jumat 11 November 2016 siang, Jalan Pagarsih Bandung terlihat lengang, tak seperti biasanya padat oleh kendaraan roda empat maupun roda dua. Aktivitas warga pun cenderung normal. Padahal, dalam kurun sebulan ini, jalan itu sudah beberapa kali berubah menjadi sungai. Air hujan seperti ditumpahkan membawa segala matrial yang ada di sepanjang kurang lebih 3 kilometer itu. Dua buah mobil menjadi korban dalam dua kali persitiwa.

Warga setempat mengakui sempat ketakutan melihat air bah menyeret mobil yang tengah parkir di jalan. Mereka sempat ketakutan karena persitiwa tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Tidak hanya Pagarsih, warga Kota Bandung di kawasan Pasteur pun merasakan ketakutan yang sama. Banjir juga mematikan kehidupan warga Rancaekek, Baleendah Kabupaten Bandung. Meski warga Baleendah sudah terbiasa terkena banjir, namun kali ini penderitaan mereka lebih panjang karena rumah-rumah mereka tergenang cukup lama.

Ketika sebagian kota Bandung dan Kabupaten Bandung lumpuh dalam beberapa hari akibat banjir, kita bisa membayangkan berapa miliar rupiah kerugian yang diderita. Kerusakan barang-barang di perumahan dan perkantoran yang terendam air yang konon lebih 1 meter, sejumlah mobil dan sepeda motor yang terendam bahkan beberapa diantaranya terbawa arus. Kerusakan jaringan infrastruktur seperti telekomunikasi, listrik dan jalan. Yang paling menyedihkan terhentinya aktivitas bisnis, dimana ratusan bahhkan ribuan warga sebagai pekerja menggantungkan harapan di situ. Sementara transportasi darat dan udara pun terganggu jadwalnya bahkan banyak yang dibatalkan.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun sempat bingung menyaksikan banjir yang terjadi di Jalan Pagarsih, Kota Bandung, Senin, 24 Oktober 2016 lalu. Pada saat bersamaan, Jalan DR Djundjunan (Pasteur) juga tergenang air sehingga mengakibatkan kemacetan parah.

Padahal menurut pengakuan Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, Pemerintah Kota Bandung telah memperbesar saluran air di kiri dan kanan Jalan Pagarsih dengan lebar masing-masing 2 x 2 meter. Dengan biata Rp 3 miliar, awalnya Pagarsih diharapkan tidak terkena banjir separah ini.
Kang Emil menyadari beberapa peristiwa ini diluar prediksi. Dengan sadar, Kang Emil pun meminta maaf kepada warga Bandung sambil menjanjikan untuk segera mencari solusi, salah satunya dengan membangun tempat-tempat parkir air.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, banjir di Jalan Pasteur dan Jalan Pagarsih disebabkan oleh terpangkasnya saluran air oleh jembatan-jembatan kecil yang berfungsi sebagai jalan masuk. Jempabatan jalan masuk ke persil-persil menghalangi sungai yang menyebabkan air naik ke jalan.

Ini memang hanya salah satu penyebab, masih ada penyebab lain yang harus diteliti dengan baik, misalnya aliran air dari utara yang bisa jadi lebih deras dari biasanya.

Tiap bencana pada dasarnya memiliki hikmah yang sama meskipun secara teknis penjelasannya bisa berbeda. Ada satu hal yang tak akan pernah dipisahkan dari semua itu yakni bagaimana manusia seharusnya belajar dari alam. Akibat ulah manusia juga bencana itu datang dari waktu ke waktu dan semakin parah.

Agar tidak terjadi bencana yang lebih parah, kita sebagai warga harus ikut membantu mencari solusi bersama pemerintah, sehingga bencana ke depan bisa kita kendalikan. Salah satu budaya yang harus dikembangkan lagi adalah budaya gotong royong, membersihkan sampah-sampah, lumpur-lumpur di kali atau sungai. Sementera pemerintah membangun tempat penampung air, warga pun gotong royong membebaskan kali atau sungai atau kali penghubung dari hambatan yang bisa menyebabkan banjir. ***

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved