Breaking News

sorot

Berharap Tak Lagi Mengimpor Cangkul

Ironisnya negara-negara tetangga itu tak memiliki cadangan gas bumi yang cukup, sebaliknya potensi gas bumi negeri ini melimpah.

Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Ferri Amiril Mukminin

DALAM berita halaman 11 harian ini, edisi Rabu (2/11), terungkap bahwa negeri ini terpaksa mengimpor cangkul lantaran harga gas industri yang mahal. "Kalau harga gas empat dolar AS per metrik british thermal unit (MMBTU), maka harga baja bisa 533 dolar AS per ton. Kalau harga gas 10 dolar AS per MMBTU, ya berat. Meskipun pakai utang tetap berat," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Tingginya harga gas ini menjadi persoalan pelik bagi pemerintah. Awal Oktober lalu, Presiden Jokowi menginginkan harga gas industri turun menjadi 5 hingga 6 dolar AS per MMBTU guna meningkatkan daya saing industri di Indonesia.

Jokowi terang-terangan mengatakan harga gas di Indonesia masih lebih tinggi dibanding Vietnam yang 7 dolar AS per MMBTU, Malaysia 4 dolar AS per MMBTU, atau Singapura yang juga hanya 4 dolar AS per MMBTU

Ironisnya negara-negara tetangga itu tak memiliki cadangan gas bumi yang cukup, sebaliknya potensi gas bumi negeri ini melimpah.

Kenyataannya apakah harga gas bisa diturunkan seperti keinginan Presiden? Ternyata hal itu tidak mudah, lantaran harga keekonomian gas bumi dari setiap lapangan gas di Indonesia berbeda-beda. Letak lapangan gas di darat (on shore) atau di laut (off shore) berpengaruh terhadap harga keekonomian. Lapangan gas di laut memiliki harga keekonomian lebih tinggi ketimbang di darat.

Tentu saja harga bisa turun, namun dengan hitung-hitungan yang sangat teliti dan perlu koordinasi antarkementerian bidang ekonomi keuangan plus BUMN energi. Selain itu pemerintah pun harus rela untuk menerima penurunan bagi hasil dari bagian hulu eksplorasi gas. Dengan demikian jika bagian penerimaan pemerintah di sektor hulu dapat diturunkan, maka diharapkan harga gas di sektor hilir dapat ikut turun pula.

Kementerian ESDM menghitung, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) gas akan turun 300,1 juta dolar AS atau sekitar Rp3,5 triliun jika harga gas industri menjadi 5 dolar AS per MMBTU. Selama ini pemerintah menjadikan gas sebagai sumber pendapatan negara.

Tapi jangan khawatir karena menurut kajian Kementerian Perindustrian dan LPEM UI, jika harga gas 5 dolar AS per MMBTU atau 47 persen, justru industri dapat tumbuh dan menggenjot penerimaan negara hingga Rp 21,3 triliun dari pajak dan industri turunan yang tercipta.
Adapun industri yang sangat membutuhkan harga gas industri turun hingga mampu berdaya saing adalah sektor industri petrokimia, keramik, tekstil, pupuk, dan industri baja.

Khusus industri baja, harus diingat bahwa industri ini adalah "mother industry" atau ibu industri. Kenapa demikian, karena semua industri apalagi industri berat bertumpu pada baja. Bagaimana suatu negara bisa membangun industri alat rumah tangga, mesin jahit, elektronik, mobil, pesawat, kapal laut, senjata, perakitan mesin, konstruksi, bahkan cangkul, jika tidak dipasok dengan baja berkualitas. Nah baja hanya bisa dibentuk menjadi peralatan jika melalui peleburan, dengan pemanasan atau pembakaran bersuhu tinggi, dan itu hanya efektif bila dilakukan dengan gas. Jadi kita pun berharap segera harga gas industri diturunkan, agar jangan lagi negeri ini mengimpor cangkul. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved