Sorot

Jadikan Dayeuhkolot Prioritas

BANJIR di Dayeuhkolot? Ah sudah biasa. Banjir di Baleendah? Sudah biasa juga. Di Cieunteung? Sama, sudah biasa juga.

Jadikan Dayeuhkolot Prioritas
ISTIMEWA DOKUMENTASI PRIBADI FACEBOOK
Machmud Mubarok, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh: Machmud Mubarok, Wartawan Tribun Jabar

BANJIR di Dayeuhkolot? Ah sudah biasa. Banjir di Baleendah? Sudah biasa juga. Di Cieunteung? Sama, sudah biasa juga.

Ini jawaban yang sering muncul ketika mendengar berita soal banjir di kawasan itu. Jawabannya klise, kan itu daerah langganan banjir.

Ya memang Dayeuhkolot dan sekitarnya selalu disambangi banjir setiap musim hujan. Ketika musim datang nyaris sepanjang tahun, tentu banjir pun menyapa warga selama itu pula.

Hujan lebat di bagian hulu nun di Kertasari sana, atau hujan deras di Kota Bandung, bisa berdampak pada kehadiran genangan di Dayeuhkolot dan sekitarnya.

Bukan cuma tahun ini, tapi dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan jika melompat jauh ke masa silam, ketika Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II (1794 - 1829) memindahkan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke daerah Kabupaten Bandung bagian tengah (pusat kota Bandung sekarang), salah satu faktor penyebabnya adalah masalah banjir.

Tapi ini jelas sebuah kebiasaan yang buruk. Tak mungkin sepanjang hayat mereka, warga Dayeuhkolot, Baleendah, dan sekitarnya, harus hidup terus di atas genangan air.

Setiap tahun digelar pertemuan, seminar, sarasehan, diskusi soal Citarum. Berbagai solusi membuncah dari arena intelektual itu. Tapi bagaimana pelaksanaannya? Rasanya sulit untuk menyebut nol besar, karena jelas pemerintah sudah berupaya dengan berbagai cara untuk menangani persoalan banjir ini.

Penyudetan, pengangkutan sedimentasi, proyek tanam pohon, proyek rehabilitasi, proyek revitalisasi, dan lain-lain sudah digelar. Tapi ya itu, banjir selalu datang dan akrab menghampiri teras-teras rumah warga, menenggelamkan rumah-rumah, dan mengungsikan warga ke tempat yang aman.

Sejak beberapa tahun lalu, muncul ide dan usulan membuat semacam danau retensi. Gunanya untuk menampung aliran sungai atau air hujan. Namun selalu saja ada kendala untuk membuat proyek danau retensi ini. Entah di mana persoalan sesungguhnya.

Lalu pernah pula ada program relokasi warga. Memang sejumlah warga sudah memutuskan untuk pindah, seperti di Cieunteung. Tapi belum semua. Masih banyak warga yang memilih bertahan di tanah kelahiran, ketimbang pindah ke tanah yang belum tentu punya harapan.

Bisa jadi karena isu banjir Dayeuhkolot, yang dianggap sebagai langanan dan sudah biasa itu, tidak menjadi prioritas utama dari pembangunan di Kabupaten Bandung. Isu penanganan banjir hanya strategis saat pemilihan kepala daerah berlangsung. Padahal seharusnya isu ini yang paling awal dan paling dikedepankan untuk diselesaikan.

Jika Dayeuhkolot bisa bebas dari banjir, tentu sebuah prestasi besar bagi kepala daerah. Selain itu, berbagai bidang kehidupan pun akan berjalan normal. Perekonomian masyarakat tidak akan terganggu. Aktivitas keseharian bisa lancar. Begitu pula pendidikan anak-anak bisa berjalan mulus.

Tentu ini semua berpulang kembali kepada pemerintah, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Dibutuhkan ketegasan untuk menjalankan proyek penyelesaian masalah banjir ini. Masyarakat pun diminta bekerja sama untuk membereskan persoalan akut ini. Tanpa kerja sama semua pihak, sepertinya tahun-tahun mendatang pun Dayeuhkolot dan sekitarnya akan tetap menyandang predikat langganan banjir. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di Tribun Jabar edisi cetak, Selasa (1/11/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved