Kamis, 23 April 2026

Transportasi

Bawa Pulang Uang Lebih Banyak Setelah Angkutan Kota Menggunakan BBG

Ridwan Kamil kemudian menggandeng PT PGN sebagai mitra untuk menyediakan ketersediaan BBG di Kota Bandung.

Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
TRIBUN JABAR/KISDIANTORO
Mobile Refueling Unit (MRU) atau fasilitas pengisian BBG berupa Compressed Natural Gas (CNG) yang terintegrasi dengan unit infrastruktur gas bergerak (mobile), di Jalan Purwakarta, milik PT Perusahan Gas Negara (PGN), siap melayani angkutan kota yang menggunakan BBG. Foto diambil Sabtu (22/10/2016). 

Pengamat Ekomoni Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi berpendapat bahwa konversi BBM ke BBG sangat mungkin dilakukan di Kota Bandung. BBG sebagai bahan bakar alternatif dari BBM yang kerap terkendala kelangkaan, terutama pada saat isu kenaikan BBM berembus, bisa dipastikan ketersediaanya karena sumber BBG di Indonesia sangat melimpah.

“BBG sangat banyak. Jadi ada kepastian soal ketersediaannya sehingga harganya pun menjadi stabil,” katanya.

Bahkan, kata dia, mendorong masyarakat Kota Bandung menggunakan LNG atau gas alam cair (Liquefied Natural Gas) hasil produksi PGN pun dimungkinkan. Apalagi ketersedian LPG (Liquefied Petroleum Gas) sering tersendat, entah karena keterlambatan pengiriman atau karena masalah distribusi yang tak merata. Hanya saja, PGN sebagai pemasok BBG atau LNG membutuhkan investasi yang besar agar kedua produknya bisa sampai langsung ke konsumen.

“Saya kita masyarakat Bandung akan beralih, pertama karena ada jaminan distribusi. Tidak seperti LPG yang kerap langka. Kedua, harganya lebih murah,” katanya.

Menurut Ekonom dari Universitas Islam Bandung Yukha Sundaya SE Msi, penggunaan BBG bisa menjadi solusi tiap kali ada gejolak kenaikan atau kelangkaan BBM. Hanya, untuk mendorong masyarakat beralih ke BBG perlu ada proyek percontohan dari pemerintah yang nantinya akan ditiru oleh masyarakat luas untuk menggunakannya.

“Menggunakan BBG memang bagus untuk lingkungan, udara menjadi bersih. Masyarakat masih pakai premium, jika ingin program ini (BBG) berhasil, perlu ada preferensi dari masyarakat,” katanya.

Rencana penghapusan premium di pasaran, katanya, bisa menjadi peluang bagi PGN maupaun pemerintah untuk mendorong masyarakat, terutama transportasi umum dan kendaraan operasional pemerintah, menggunakan BBG. Apalagi pertalite harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan BBG. (***)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved