Transportasi
Bawa Pulang Uang Lebih Banyak Setelah Angkutan Kota Menggunakan BBG
Ridwan Kamil kemudian menggandeng PT PGN sebagai mitra untuk menyediakan ketersediaan BBG di Kota Bandung.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kisdiantoro
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID – Menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk operasional angkutan kota (angkot) memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi Gabril (37), sopir angkot trayek Antapani-Ciroyom, dan belasan sopir angkot lainnya untuk trayek yang sama. Keuntungan itu didadapat karena menggunakan BBG ternyata jauh lebih hemat dibandingkan jika angkot melaju dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium.
“Ada lebihnya pak, kami bisa bawa pulang sekitar Rp 80 ribu. Kalau pakai premium, paling-paling Rp 30 ribu (setelah dipotong setoran, ongkos cuci mobil, dan makan),” kata Gabril, ditemui di sebuah warung di terminal angkutan kota jurusan Ciroyom-Antapani, di Jalan Purwakarta, Kota Bandung, Sabtu (22/10).
Gabril dan teman-temannya bisa membawa uang lebih dibandingkan ketika masih menggunakan premium karena harga BBG berupa Compressed Natural Gas (CNG) harga per liternya jauh lebih murah, Rp 4.500. Sedangkan harga premium per liternya kini Rp 6.500. Untuk narik seharian, biaya belanja BBG untuk sekali pengisian sekitar Rp 67.500 atau setara dengan 15 liter. Jika menggunakan premium, sehari bisa lebih dari 15 liter sehingga uang yang dikeluarkan pun semakian banyak, bahkan bisa mencapai Rp 130.000 lebih.
“Untuk ketersediaan gas-nya juga aman. Di mobil lebih irit,” kata Gabril.

Angkutan kota trayek Antapani-Ciroyom berbahan bakar gas (BBG) menunggu penumpang di terminal angkutan kota Antapani, di Jalan Purwakarta, Kota Bandung, Sabtu (22/10/2016). (TRIBUN JABAR/KISDIANTORO)
Hampir semua pengusaha dan sopir angkot di trayek Antapani-Ciroyom, ingin menggunakan BBG. Namun, ketersediaan converter kit menjadi kendalanya. Meski tersedia harganya bahak memaksa mereka merogok saku lebih dalam. Ini mengapa kemudian baru ada belasan angkot yang terpasang converter kit dan menggunakan BBG. Padahal, Mobile Refueling Unit (MRU) atau fasilitas pengisian BBG berupa Compressed Natural Gas (CNG) yang terintegrasi dalam satu unit infrastruktur gas bergerak (mobile), di Jalan Purwakarta, milik PT Perusahan Gas Negara (PGN) mampu untuk melayani semua angkot trayek tersebut yang jumlahnya mencapai 40 buah.
Kadishub Kota Bandung Didi Ruswandi, mengakui bahwa kelanjutan konversi penggunaan BBM ke BBG di Kota Bandung untuk transportasi umum belum berjalan dengan baik. Persoalannya ada pada ketersediaan converter kit. Sekitar 15 angkot yang masih menggunakan BGG, alatnya hasil dari sumbangan program CSR (corporatre social responsibility).
“Kalau meminta angkot beli converter, sepertinya berat karena harganya mahal. Kami sedang mendorong sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan penelitian agar nanti ada alat yang murah,” kata Didi melalui sambungan telepon, Sabtu (22/10).
Pada bulan Juni lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil gencar mensosialisasikan dan mendorong transportasi umum dan kendaraan operasional milik pemerintah Kota Bandung beralih menggunakan BBG. Pertimbangannya karena BBG yang ramah lingkungan dan efisien bahan bakar. Menurut hasil studi di lapangan, ada penghematan hingga Rp14 juta dalam satu tahun, untuk operasional satu angkutan kota.
Ridwan Kamil kemudian menggandeng PT PGN sebagai mitra untuk menyediakan ketersediaan BBG di Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung dan PT PGN kemudian menjalin kerjasama yang MoU-nya ditandatangani pada Kamis, 16 Juni 2016, di Gedung PGN Jalan Braga, Kota Bandung.
Dalam kerjasama itu, Direktur Utama PT PGN, Hendi Prio Santoso, mendukung program Pemerintah Kota Bandung, dengan menyiapkan infrastruktur Bahan Bakar Gas baik SPBG maupun Mobile Refueling Unit (MRU).
PGN kemudian menyiapkan fasilitas MRU di Terminal Antapani. MRU atau SPBG berjalan ini sangat membantu dan menjadi solusi pembangunan infrastruktur gas bumi untuk sektor transportasi. Jika kebutuhan BBG di Kota Bandung semakin meningkat, maka PT PGN pun bersedia untuk menambahkan pasokannya.
“Betul, kami telah melakukan kerjasama dengan PGN. Di antaranya penggunaan gedung PGN di Bandung dan penyediaan MRU di terminal Antapani,” kata Didi.
Sebagai informasi, Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang cukup banyak. Keunggulan lain dari BBG berupa CNG, nilai oktannya (RON) mencapai 120, sementara bensin hanya RON 88-95. Sedangkan LGV/LPG (Liquefied Gas for Vehicle) tingkat oktannya mencapai 98. BBG tergolong ekonomis karena harga BBG untuk 1 liter setara premium (LSP) masih Rp 4.500. Dengan demikian selain ramah lingkungan, dan baik bagi kendaraan, juga memberikan penghematan bagi penggunanya.
Pasokan Melimpah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mobile-refueling-unit-mru-di-terminal-antapani-kota-bandung_20161024_152547.jpg)