Sorot

Presiden pun Risih

SEJAK dunia maya mulai menunjukkan eksistensinya, beragam situs berita online mulai bermunculan.

Presiden pun Risih
ISTIMEWA / DOKUMENTASI PRIBADI FACEBOOK
Agung Yulianto Wibowo, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh: Agung Yulianto, Wartawan Tribun Jabar

SEJAK dunia maya mulai menunjukkan eksistensinya, beragam situs berita online mulai bermunculan. Ada yang termasuk dalam korporasi media besar mainstream, dan ada juga yang dibuat ala kadarnya. Pembaca bebas memilih situs berita yang mereka inginkan. Apalagi sudah banyak juga media yang membuat aplikasi yang bisa diunduh di AppStore Android atau AppStore di iPhone.

Situs berita online memungkinkan para pembaca untuk berinteraksi dengan menulis komentarnya di tautan berita. Biasanya kolom komentar terdapat di bawah tulisan berita. Pembaca bebas menulis apapun di kolom komentar itu. Saking bebasnya, mereka ada yang saling menghujat.

Bahkan, sudah sering komentar itu mengandung unsur kebencian suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Biasanya komentar bermunculan ketika berkaitan dengan berita politik, kriminal, dan berita peristiwa. Komentator di media online atau pengguna internet disebut dengan netizen, gabungan kata yang terdiri dari internet dan citizen.

Saking parahnya, Presiden Joko Widodo sampai risih melihat komentar pada berita online yang saling menghujat. Dia meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy agar menambah persentase etika, budi pekerti, dan sopan santun, terutama di tingkat SD dan SMP.

"Saya baca berita online hanya judul saja, kemudian saya lompati untuk langsung melihat komentarnya. Masya Allah, sedih lihat saling hujat. Itu bukan lagi nilai kesopanan dan budi pekerti, tetapi sudah masuk infiltrasi sehingga hilangkan jati diri bangsa Indonesia," katanya, seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (19/9/2016).

Jokowi mengatakan, tanpa pendidikan budi pekerti dan etika, maka identitas orang Indonesia yang terkenal santun akan hilang. Apalagi di media sosial begitu banyak orang saling mengejek, merendahkan dan menghina serta mengolok. Padahal, 40 tahun lalu fenomena itu belum tampak.

"Sekarang lihat medsos, nilai itu mulai hilang dari kita," kata Jokowi.

Bagi intelektual yang mengerti dunia maya, mungkin bisa dengan bijak menanggapi beragam komentar netizen.

Namun bagi mereka yang awam, bisa saja menjadi ikut panas ketika membaca komentar yang cenderung menghasut.

Betul, demokrasi membolehkan siapapun menyuarakan pendapatnya. Namun dilakukan pada prinsip egaliter, bebas bersuara, tetapi bertanggungjawab dan tetap menghormati orang lain.

Yuk lebih bijak dalam berkomentar.. (*)

Naskah ini juga dimuat di Tribun Jabar edisi cetak, Selasa (11/10/2016). Ikuti pula berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

Penulis: Agung Yulianto Wibowo
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved