SOROT

Merampok

Jika dua masalah itu bisa diselesaikan, otomatis angka kriminalitas menurun

Merampok
dok pribadi
Redaktur Tribun Jabar Kisdiantoro 

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

MERAMPOK. Ini kata yang belakangan akrab di telinga. Bukan saja karena banyak orang membicarakannya, tapi kisah-kisah merusak rasa aman itu memang benar-benar terjadi.
Pada Rabu (5/10), sekelompok orang mengambil uang di dua ATM di sebuah minimarket di kawasan Tanjungsari, Sumedang, dalam jumlah besar, Rp 224 juta.

Kawanan itu menjalankan misinya dengan menjebol tembok belakang dan plafon minimarket. Seperti telah dipelajari, perampok menjebol plafon persis di atas ATM. Mereka juga paham tempat CCTV (kamera pengintai) yang kemudian dimatikan salurannya. Polisi mengendus bahwa pelaku perampokan itu spesialis merampok ATM. Sebab, tak ada barang yang dicuri dari minimarket, kecuali kerugian karena ada bagian gedung yang rusak.

Sebelum perampokan di Sumedang, orang membicarakan aksi percobaan perampokan di Cianjur yang nyaris membawa kabur uang Rp 106 miliar, Jumat (23/9). Uang yang sama banyaknya dengan rekening-rekening gendut milik para pejabat di negeri ini yang diumumkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Atas kepiawaian polisi, aksi perampokan bisa digagalkan. Uang ratusan miliar itu pun selamat. Polisi menemukan bukti-bukti keterlibatan karyawan perusahaan pemilik uang miliaran itu, PT Abacus Cash Solution Regional Jawa Barat.

Kasus perampokan lain adalah di Jalan Raya Mariuk-Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Rabu (14/9). Perampok menggasak uang miliaran rupiah dari mobil pengiriman ATM. Perampok yang diduga berjumlah 10 orang mengadang mobil milik PT TAG di Jalan Raya Mariuk, memakai mobil. Bermodalkan senjata api, perampok lalu melarikan uang Rp 10,9 miliar. Kasus-kasus perampokan lain dengan nilai kecil hampir setiap hari beritanya berseliweran di media massa. Korbannya tak hanya lembaga atau perusahaan, tapi juga menyasar rumah-rumah masyarakat.

Mengapa perampokan seperti menjadi hal yang biasa dan orang begitu nekatnya melakukan tindakan berisiko dan berdosa? Kriminolog Yesmil Anwar, dalam sebuah wawancara, menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan orang nekat merampok. Di antaranya adalah lemahnya penegakan hukum. Perampok kini tak hanya menakut-nakuti dengan sejata api, tapi mereka tak segan menembak atau menghabisi korban yang melawan.

Penyebab lain adalah masalah pengangguran dan tingkat kesejahteraan yang rendah. Angka pengangguran di Jabar per Agustus 2016 meningkat menjadi 1,89 juta penduduk. Kenaikannya memang tidak banyak, sekitar 100 ribu orang. Namun, angka ini tetap menjadi beban pemerintah. Soal kemiskinan, tahun 2015, berdasarkan data BPS jumlah warga miskin di Indonesia mencapai 28,51 juta orang, dan 2,7 juta orang di antaranya di Jabar. Kecemburuan sosial pun muncul. Di negeri ini banyak orang kaya pamer kekayaan dan mereka seolah kebal hukum. Para koruptor pun mendapat perlakuan nyaman, tak tampak ada hukuman yang menjadikan pelaku kejahatan berat itu menjadi jera. Meskipun dipenjara, mereka mendapatkan remisi berkali-kali.

Jika dua masalah itu bisa diselesaikan, otomatis angka kriminalitas menurun. Menengok negara- negara paling aman di dunia, Selandia Baru, Denmark, Spanyol, Singapura, dan Jepang, ternyata di balik rendahnya angka kriminalitas karena penegakan hukum sangat ketat dan kesejahteraan masyarakatnya tinggi. Membandingkan dengan mereka, memang tak setara karena Indonesia wilayahnya jauh lebih luas dengan karakter penduduk beragam. Namun, dua prinsip itu bisa dicontek untuk solusi negeri ini. Tentu dengan kerja keras dan teladan yang baik agar masyarakat percaya bahwa pemangku negeri ini benar-benar memikirkan dan melayani mereka. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved