SOROT
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Rel
Persoalan saat ini adalah, penghargaan bangsa ini, terhadap KA begitu kurang
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Kisdiantoro
Oleh ADITYAS A A
Wartawan Tribun
KERETA Api (KA) itu berjalan di jalannya sendiri. Ya, di atas rel. KA selalu mengikuti relnya. Sang masinis fokus menjalankan lokomotif guna menarik gerbong berisi ratusan penumpang atau berton-ton barang di relnya hingga ke tujuan.
Karena memiliki jalur sendiri maka kereta api itu transportasi istimewa. Jika ia diganggu, maka akan memakan korban yang berakhir tragis. Coba saja ingat, sudah berapa banyak nyawa melayang akibat tertabrak KA. Tentu masih lebih banyak korban akibat salahnya sendiri melanggar jalan (rel) KA, dibandingkan akibat kesalahan masinis.
Persoalan saat ini adalah, penghargaan bangsa ini, terhadap KA begitu kurang. Penjajah Belanda melalui Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM, N.V) membangun KA pertama di Indonesia pada 1867 di Semarang dengan rute Semarang-Tanggung yang berjarak 26 km. Sukses di jalur itu membuat Belanda antara 1864-1900 berhasil membangun jaringan rel di hampir seluruh Pulau Jawa. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, dan pada 1900 sudah menjadi 3.338 km.
Bukan saja di Jawa, pembangunan rel KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatra Utara (1886), Sumatra Barat (1891), Sumatra Selatan (1914), bahkan pada 1922 di Sulawesi telah dibangun rel KA sepanjang 47 km antara Makassar-Takalar. Sampai 1939, panjang rel KA di Indonesia mencapai 6.811 km. Tapi, pada 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km.
Di era rezim orde baru, perusahaan KA yang saat itu bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) mengalami kemunduran. PJKA menganggap sejumlah jalur kereta api lintas cabang tidak mendatangkan keuntungan ekonomis. Selain dari banyaknya penumpang gelap, kerusakan lokomotif, maupun kerusakan prasarana perkeretaapian, persaingan dengan angkutan umum (bus, angkot) juga telah mengakibatkan kerugian besar bagi PJKA. Akibatnya PJKA terpaksa menutup jalur-jalur KA berikut stasiun dan seluruh layanannya.
Kini di Indonesia, khususnya Pulau Jawa sudah kelebihan beban penduduk. Kita sudah merasakan dampaknya, yaitu kemacetan lalu lintas dimana-mana, khususnya di kota-kota besar. Kita bisa melihat sendiri bagaimana segala jenis kendaraan mulai dari sepeda hingga truk kontainer, bahkan alat berat memenuhi jalan raya di negeri ini. Beban jalan khususnya di Pulau Jawa kian berat, waktu habis terbuang, dan dana besar terpaksa dikeluarkan untuk memperlebar, memperpanjang, dan menambah jalan raya baru.
Sekarang tengok tetangga dekat. Mulai Singapura hingga Thailand telah mengembangkan secara masif dan terintegrasi rel kereta baik itu dalam kota seperti mass rapid transit (MRT) atau light rail transit (LRT) maupun untuk antarkota. Tentu saja jika dibandingkan Cina, Korea Selatan, Taiwan, atau Jepang, kita sangat ketinggalan karena mereka telah memakai kereta supercepat.
Menteri BUMN, Rini Soemarno dalam kunjungan ke Stasiun Bandung kemarin mengakui, jalur
KA di Indonesia sudah menyusut hingga 2.000 km. Itu tantangan bagi pemimpin bangsa ini, baik di level pusat maupun daerah, bahwa membangun jaringan transportasi massal berbasis rel adalah kewajiban. Itu harus diwujudkan jika tidak ingin menjadi bangsa terbelakang lantaran melupakan rel. Jangan sekali-kali meninggalkan rel (kereta) dari kehidupan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/adityas-annas-azhari-baru-dibesarin_20150723_095310.jpg)